Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Menguat di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, DPR Apresiasi Langkah BI Gandeng China

Rupiah Menguat di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, DPR Apresiasi Langkah BI Gandeng China Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menilai berbagai langkah Bank Indonesia (BI) mulai menunjukkan hasil positif.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs dolar AS ditutup di level Rp17.860 pada Jumat (12/6/2026), melemah 128 poin atau sekitar 0,71 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Menurut Dasco, salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah adalah strategi BI memperluas kerja sama keuangan dengan China dan Hong Kong guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dan People's Bank of China.

Selain itu, kedua negara juga memperluas implementasi transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup wilayah Hong Kong.

Dasco menilai kerja sama tersebut menjadi terobosan penting karena memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi dilakukan menggunakan rupiah maupun renminbi tanpa harus melalui dolar AS.

"Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa dilakukan dengan menggunakan rupiah atau renminbi tanpa harus menggantungkan pada dolar Amerika Serikat," kata Dasco dalam keterangannya.

Kerja sama itu dinilai memiliki dampak besar mengingat hubungan dagang Indonesia dan China terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai sekitar 154,5 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp2.700 triliun dengan kurs saat ini.

Dengan implementasi LCT, aktivitas ekspor dan impor antara Indonesia dan China dapat dilakukan langsung menggunakan mata uang masing-masing negara.

Menurut Dasco, kebijakan tersebut menjadi upaya konkret pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional.

"Ini upaya yang sangat serius mengurangi kebutuhan dolar AS untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-China," ujarnya.

Selain kerja sama mata uang lokal, Indonesia dan China juga memperkuat integrasi sistem pembayaran digital melalui QRIS lintas batas atau cross-border.

Baca Juga: Tinggalkan Dolar, BI dan Bank Sentral China Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal

Melalui sistem tersebut, pelaku usaha dan masyarakat kedua negara dapat melakukan transaksi pembayaran secara lebih mudah dan efisien.

Saat ini, jaringan QRIS lintas negara Indonesia-China telah melibatkan 191 penyedia layanan pembayaran di China dan 24 penyedia layanan di Indonesia yang saling terhubung.

Dasco menilai kombinasi kerja sama mata uang lokal dan pembayaran digital lintas negara akan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia sekaligus memperluas penggunaan rupiah dalam transaksi internasional.

Ia juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang terus mencari alternatif untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama