Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AI Ubah Fungsi Keuangan Perusahaan, Wamen Nezar Patria: Bukan Sekadar Alat Otomasi

        AI Ubah Fungsi Keuangan Perusahaan, Wamen Nezar Patria: Bukan Sekadar Alat Otomasi Kredit Foto: Kemkomdigi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI mulai mengubah cara kerja fungsi keuangan di perusahaan. Teknologi ini tidak lagi sekadar berperan sebagai alat otomasi, tetapi telah berdampak langsung pada peningkatan efisiensi serta kualitas pengambilan keputusan bisnis.

        Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa adopsi AI di sektor keuangan menunjukkan hasil yang terukur. Hal tersebut disampaikannya dalam forum Deloitte Indonesia CFO Forum 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (15/04/2026).

        Menurut Nezar, studi terhadap ratusan perusahaan menunjukkan adanya peningkatan produktivitas yang signifikan, khususnya dalam proses pengelolaan piutang dan transaksi.

        “Teknologi dan digitalisasi kini menjadi prioritas utama para CFO dalam menghadapi tahun ini. Mereka memandang AI bukan sekadar alat otomasi, tetapi sebagai motor untuk merespon perubahan pasar dan dinamika pelanggan secara lebih cepat dan presisi,” ujarnya.

        Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan Stanford AI Index 2025, adopsi AI di dunia bisnis global meningkat tajam. Sebanyak 78 persen organisasi telah memanfaatkan AI, naik dari sebelumnya 55 persen.

        Dampak implementasi AI juga terlihat nyata. Dalam studi terhadap 500 perusahaan yang mengadopsi AI untuk proses piutang, tercatat peningkatan produktivitas hingga 82 persen dan efisiensi operasional mencapai 60 persen.

        Meski demikian, Nezar menekankan bahwa tantangan utama transformasi digital di sektor keuangan tidak hanya terletak pada teknologi, melainkan juga pada kepemimpinan dan budaya organisasi.

        “Hambatan terbesar bukan teknologi, tetapi leadership dan budaya organisasi. Banyak inisiatif AI berhenti di tahap uji coba tanpa memberikan dampak nyata,” tegasnya.

        Dalam paparannya, ia menggarisbawahi tiga tantangan strategis. Pertama, jebakan proyek percontohan (pilot project) yang tidak berkembang menjadi implementasi skala penuh. Kedua, kualitas dan tata kelola data yang menjadi fondasi utama keberhasilan AI.

        “AI akan gagal jika tidak didukung oleh data yang bersih, terintegrasi, dan aman. Ini harus menjadi landasan seluruh inisiatif AI,” ujarnya.

        Ketiga, kesiapan sumber daya manusia melalui pendekatan human in the loop. Nezar menilai nilai optimal AI hanya dapat dicapai jika berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia.

        Mengutip World Economic Forum, ia menyebutkan bahwa produktivitas sejati dari AI tercipta ketika kemampuan manusia ikut berkembang.

        “Yang paling penting adalah membangun manusia, bukan hanya sistem. Jangan sampai manusia justru tersisih dalam proses berbasis AI,” tegasnya.

        Baca Juga: Nezar Patria: Pengelolaan Data BPJS Kesehatan Butuh Dukungan AI

        Sebagai langkah strategis, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah menyiapkan peta jalan nasional pengembangan AI. Dokumen ini akan menjadi dasar kebijakan untuk memastikan pemanfaatan AI berjalan secara etis, aman, dan inklusif.

        Nezar menyebut, peta jalan tersebut telah rampung dan akan segera disahkan melalui peraturan presiden dalam waktu dekat, bersamaan dengan dokumen etika AI.

        “Mudah-mudahan dalam 1–2 bulan ke depan presiden bisa menandatangani Peta Jalan Pengembangan Artificial Intelligence Nasional,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: