Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gugurkan Mitos Lebih Aman, Studi Buktikan Vape Hantarkan Logam Beracun Langsung ke Paru-Paru

        Gugurkan Mitos Lebih Aman, Studi Buktikan Vape Hantarkan Logam Beracun Langsung ke Paru-Paru Kredit Foto: Freepik/Racool_studio
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sebuah penelitian medis terbaru asal Australia berhasil mematahkan anggapan yang selama ini menyebutkan bahwa rokok elektrik (vape) merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

        Studi tersebut mengungkap temuan mengejutkan: perangkat vape terbukti menghantarkan partikel logam beracun langsung ke dalam jaringan paru-paru penggunanya.

        Menurut rilis resmi dari University of Technology Sydney pada Jumat (17/4), paparan vape, bahkan dalam penggunaan jangka pendek dan di bawah batas rata-rata pemakaian harian, tetap memicu akumulasi logam beracun yang terukur di paru-paru. Beberapa jenis logam berbahaya yang terdeteksi antara lain timbal, tembaga, dan nikel.

        Disitat dari Xinhua, penelitian praklinis ini sekaligus menjadi bukti ilmiah pertama yang mendemonstrasikan bahwa aerosol (uap) vape mengandung spesies logam yang berkaitan erat dengan timah dan merkuri.

        Bahayanya, partikel jenis ini cenderung lebih mudah diserap oleh tubuh dan jauh lebih reaktif secara biologis dibandingkan logam anorganik biasa.

        Peneliti utama studi dari UTS sekaligus dosen kimia analitik, Dayanne Bordin, menyebut temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Analytical and Bioanalytical Chemistry ini sebagai "bahaya terselubung" yang selama ini luput dari perhatian publik.

        "Profil logam yang kami amati secara konsisten berasal dari emisi koil pemanas dan komponen listrik pada perangkat," jelas Bordin.

        Ia menyoroti bahwa evaluasi keamanan vape selama ini kerap keliru karena hanya berfokus pada bahan kimia cairannya (liquid), sementara emisi berbahaya yang bersumber dari perangkat kerasnya justru terabaikan.

        Padahal, berbeda dengan rokok konvensional yang terstandardisasi, desain dan kualitas manufaktur perangkat vape yang beredar di pasaran sangat bervariasi. Hal ini membuat potensi risiko paparan racunnya menjadi semakin tinggi dan sulit diprediksi.

        Temuan medis ini terasa kian mendesak di tengah lonjakan tren penggunaan vape secara global, terutama di kalangan generasi muda.

        Di Australia sendiri, prevalensi pengguna vape pada kelompok usia dewasa muda melonjak drastis, dari hanya 5,3 persen pada 2019 menjadi lebih dari 21 persen pada 2023, dengan tren serupa yang juga melanda kelompok remaja.

        Merespons ancaman kesehatan tersebut, tim peneliti mendesak otoritas terkait untuk segera meninjau ulang regulasi peredaran vape.

        Mereka menuntut adanya pengujian emisi perangkat secara rutin dan ketat, serta mendesak pembaruan panduan kesehatan masyarakat yang secara spesifik memperingatkan bahaya paparan dan bioakumulasi logam beracun dari rokok elektrik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: