PDIP Ikut 'Nimbrung' Perdebatan Seskab Teddy vs Dino Patti Djalal, Masuk Tim Mana?
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PDI Perjuangan ikutan 'nimbrung' melihat perdebatan antara Seskab Teddy Indra Wijaya dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait efisiensi anggaran perjalanan dinas Presiden Prabowo.
Melalui Juru Bicara PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli juga menimpali jawaban Teddy Indra Wijaya ke Dino Patti Djalal soal kunjungan luar negeri yang berdampak baik ke investasi.
Guntur menuding Seskab Teddy telah menyesatkan publik dengan memutarbalikkan data realisasi investasi demi membela intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Bela Dino Patti Djalal yang Disentil Seskab Teddy, Anies Baswedan: Dia Bukan Pejabat Karbitan
Menurut PDIP, klaim Teddy yang menyebut total investasi sebesar Rp2.430 triliun selama 1,5 tahun terakhir sebagai hasil diplomasi luar negeri Presiden Prabowo merupakan narasi yang keliru.
"Apa yang disampaikan Seskab Teddy bukan sekadar overclaim. Ini penyesatan publik yang disengaja. Teddy sengaja mengaburkan antara komitmen dan realisasi, serta menyematkan prestasi investasi dalam negeri sebagai hasil diplomasi luar negeri demi narasi politik yang gemerlap," kata Guntur Romli dalam video reels-nya di Instagram.
Guntur lalu membeberkan rincian data dari Kementerian Investasi/BKPM untuk menunjukkan dasar kritiknya terhadap klaim pihak Istana.
Berdasarkan data BKPM sepanjang tahun 2025, porsi investasi di Indonesia didominasi oleh pengusaha domestik, bukan investor asing. "Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang sebesar Rp1.279 triliun atau 52,6 persen dari total investasi. Sementara, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp1.150 triliun atau 47,4 persen," jelasnya.
Guntur menambahkan, data BKPM juga menunjukkan realisasi PMA sepanjang 2025 berada dalam kondisi stagnan.
"Artinya, mayoritas investor itu berasal dari dalam negeri (PMDN). Bagaimana bisa investasi lokal diklaim sebagai hasil dari kunjungan luar negeri Presiden Prabowo?" kata Guntur.
Selain itu, Guntur juga mempersoalkan sumber investasi, Guntur juga menyoroti klaim Teddy terkait potensi investasi senilai Rp575 triliun dari hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan.
Menurutnya, angka tersebut masih sebatas nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) atau komitmen bisnis dan belum tercatat sebagai realisasi investasi yang masuk melalui BKPM.
"Publik berhak mendapat fakta yang jujur, bukan kalimat bombastis yang menyesatkan," pungkas Guntur.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: