Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menekankan bahwa kompetensi penjamah makanan (food handler competency) merupakan faktor kunci dalam memperkuat keamanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata nasional.
Sejalan dengan momentum peringatan Hari Kartini, Kemenpar mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang gastronomi, khususnya dalam aspek higienitas pengelolaan makanan. Hal ini juga menjadi refleksi atas peran strategis perempuan dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia.
Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kemenpar, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, menyampaikan penguatan SDM menjadi elemen krusial dalam pengembangan gastronomi karena sektor ini memiliki kontribusi besar terhadap pengalaman wisatawan dan reputasi destinasi.
“Kompetensi penjamah makanan atau food handler competency merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keamanan pangan di restoran, street food, maupun hotel. Oleh karena itu, pelatihan terkait higiene personal, sanitasi fasilitas, serta penanganan makanan yang aman harus menjadi prioritas utama,” kata Dewi, dikutip dari siaran pers Kemenpar, Rabu (22/4).
Pihaknya juga sebelumnya telah menggelar talkshow “Ruang Diskusi Strategis” bertema “Peran Perempuan dalam Strategi Pengembangan Wisata Gastronomi Indonesia” yang dilaksanakan pada 7 April 2026 di Politeknik NHI Bandung.
Ia menambahkan, selain aspek keamanan pangan, SDM gastronomi juga perlu dibekali pemahaman tentang keberlanjutan sebagai bagian dari transformasi industri hospitality global. Pendekatan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada penggunaan bahan lokal, tetapi juga mencakup efisiensi energi, pengelolaan limbah, pengurangan food waste, serta penerapan praktik ramah lingkungan.
“Di Indonesia, prinsip ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mendorong konsep green gastronomy di restoran, pasar kuliner, dan destinasi wisata. Integrasi antara higienitas dan keberlanjutan akan menghasilkan produk kuliner yang tidak hanya aman, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.
Dewi menuturkan penguatan SDM berbasis higienitas dan keberlanjutan diyakini mampu memberikan dampak luas bagi ekosistem gastronomi nasional. SDM yang kompeten akan mendorong destinasi gastronomi Indonesia memiliki daya saing global serta menghadirkan pengalaman kuliner yang aman, autentik, dan berstandar internasional.
“Melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta industri, Indonesia dapat mengembangkan destinasi gastronomi yang unggul dari sisi higienitas, ramah lingkungan, dan mencerminkan identitas kuliner nasional. Ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung visi Indonesia Emas 2045 di sektor pariwisata,” ujarnya.
Momentum Hari Kartini sekaligus menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak utama dalam rantai nilai gastronomi, mulai dari produksi, pengolahan, hingga penyajian kuliner. Penguatan kapasitas perempuan di sektor ini diharapkan mampu mempercepat transformasi pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Peran perempuan dalam pariwisata menjadi penting karena kontribusinya yang besar dalam menggerakkan sektor serta menjaga pengetahuan dan praktik budaya. Hal itu tercermin dari dominasi perempuan dalam pasar wisata global dimana sekitar 64 persen wisatawan dunia adalah perempuan dan 80 persen keputusan perjalanan ditentukan oleh perempuan.
Sementara dari sisi tenaga kerja perempuan menyumbang sekitar 54 persen tenaga kerja pariwisata global dan 54,5 persen di Indonesia serta mengelola sekitar 64 persen UMKM termasuk di sektor kuliner dan pariwisata, yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam ekosistem pariwisata. Ini sekaligus memerlukan penguatan peran dalam pengambilan keputusan dan pengembangan sektor ke depan.
Baca Juga: Indonesia Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global
Baca Juga: Apple Mantap Perkuat Ekosistem Digital Indonesia
Menegaskan hal tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kurleni Ukar menyampaikan bahwa perempuan menjadi fondasi utama, penggerak sektor, menjaga pengetahuan lokal, dan menopang keberlanjutan dari hulu hingga hilir dalam ekosistem pariwisata.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran tersebut mendorong pengembangan pariwisata gastronomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas.” ujar Kurleni.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: