Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Strategi Globalisasi Otto Media Group: Singapura Pusat Riset dan Indonesia Pusat Eksekusi

        Strategi Globalisasi Otto Media Group: Singapura Pusat Riset dan Indonesia Pusat Eksekusi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Memasuki era ketidakpastian tinggi pasca konflik Rusia-Ukraina pada awal 2022, perusahaan internasional dituntut merancang ulang strategi globalisasi mereka. Otto Media Grup, perusahaan media yang berkantor pusat di Singapura dan berekspansi ke Indonesia, menjadi salah satu contoh entitas yang melakukan transformasi organisasi secara adaptif.

        Otto Media Grup di Singapura dan Indonesia tidak hanya memandang globalisasi sekadar perluasan pasar, melainkan sebagai peningkatan organisasi yang berfokus pada restrukturisasi fungsi, redistribusi aset, dan desain ulang peluang talenta.

        Kantor pusat Otto Media di Singapura mengalami perubahan besar. Tim yang sebelumnya menjalankan operasi media seluruh rantai kini bertransformasi menjadi pusat bisnis berbasis aset ringan dan keahlian tinggi. Fokus utama mereka meliputi manajemen hak cipta, keuangan, dan riset pasar.

        Penyesuaian ini bukanlah pemangkasan bisnis, melainkan pengalihan fungsi. Bagian-bagian yang sangat bergantung pada stabilitas sistem, kemampuan antarmuka internasional, penilaian profesional, dan kepatuhan tinggi tetap berada di Singapura. Sementara itu, bisnis berbasis aset berat yang memerlukan eksekusi intensif, kolaborasi tim, operasi lapangan, dan dukungan pelatihan skala besar dipindahkan ke luar negeri.

        Dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), karyawan di Singapura lebih sering bekerja jarak jauh. Mereka terbebas dari tugas eksekusi berfrekuensi tinggi dan lebih fokus pada pengembangan kemampuan profesional serta dukungan keputusan lintas wilayah.

        Di sisi lain, bagian di Indonesia mengambil alih fungsi bisnis yang lebih berorientasi pada ekspansi skala. Beberapa kegiatan yang dialihkan ke Indonesia adalah seperti siaran langsung, pelatihan influencer, desain produksi produk, pelatihan pendidikan AI, eksekusi strategi pemasaran, dan akademi pelatihan pendidikan.

        Manajemen Otto Media menegaskan bahwa pemindahan ini bukan semata karena biaya tenaga kerja yang bersaing. Faktor penentu utamanya adalah kondisi unik pasar Indonesia, seperti pasar konsumen yang berkembang pesat, struktur populasi muda, meningkatnya partisipasi dalam digitalisasi dan AI, serta kemampuan tinggi dalam menyerap bentuk pekerjaan baru dan peningkatan keterampilan.

        Perusahaan tidak sekadar "menyalin" model Singapura ke Indonesia. Setelah memahami ritme pasar lokal, struktur tenaga kerja, dan jalur karier anak muda, Otto Media mengintegrasikan seluruh sistem operasional yang telah terbukti di pasar berkembang ke dalam masyarakat lokal, termasuk mekanisme pelatihan, metode pemasaran, dan organisasi.

        Budi Santoso, Media Manager Otto Media Grup, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.

        "Kami melihat Indonesia bukan hanya sebagai lokasi ekspansi, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem industri kreatif dan digital yang lebih kuat melalui kombinasi talenta lokal, adopsi teknologi AI, serta sistem pelatihan yang terstruktur," ujar Budi.

        Melalui akademi pelatihan pendidikan, Otto Media menyediakan pelatihan keterampilan yang sistematis dan membuka jalur bagi kaum muda untuk memasuki industri baru. Hasilnya, perusahaan mampu melakukan perpindahan industri yang efisien dari Singapura ke Indonesia dalam waktu relatif singkat dan cepat membangun kapasitas bisnis baru di sana.

        Baca Juga: Langkah Iran di Hormuz Bisa Ubah Aturan Main Laut Internasional

        Dari perspektif makro, konfigurasi ganda Otto Media Grup antara Singapura dan Indonesia memberikan contoh penting. Dalam rekonfigurasi rantai pasokan global kontemporer, perusahaan internasional yang tangguh tidak akan melakukan perpindahan tanpa arah hanya untuk mengejar biaya rendah.

        Sebaliknya, mereka akan menyesuaikan ulang penempatan bisnis "aset ringan dan berorientasi penilaian tinggi" serta "bisnis yang membutuhkan eksekusi intensif dan ekspansi besar" berdasarkan kondisi sistem, struktur talenta, lingkungan sosial, dan tingkat kematangan industri di masing-masing wilayah.

        Kemampuan inilah yang menjadi keterampilan bertahan yang harus dimiliki oleh perusahaan internasional di era ketidakpastian global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: