Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Langkah China Perluas Pasar Otomotif di AS Diganjal Parlemen

        Langkah China Perluas Pasar Otomotif di AS Diganjal Parlemen Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sebanyak 70 senator dari Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) menyoroti potensi masuknya mobil asal China melalui jalur tidak langsung atau “pintu belakang”, yakni lewat Kanada dan Meksiko yang terikat dalam perjanjian dagang United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA).

        Puluhan senator itu menilai skema tersebut berisiko mengganggu industri otomotif dalam negeri AS, terutama di tengah meningkatnya daya saing kendaraan listrik (EV) asal China di pasar global.

        Kekhawatiran ini menguat setelah Kanada dan China pada Januari lalu mencapai kesepakatan penurunan tarif impor kendaraan listrik.

        Kebijakan itu menghapus tarif sebelumnya yang mencapai 100 persen, dan kini memungkinkan kuota hingga 49.000 mobil listrik buatan China masuk ke Kanada dengan tarif preferensial sebesar 6,1 persen.

        Baca Juga: Industri Baja RI Kalah Jauh dari China, Ini Faktor Utamanya

        Di sisi lain, lonjakan impor kendaraan asal China juga terjadi di Meksiko dalam beberapa tahun terakhir.

        Pemerintah Meksiko bahkan telah mengambil langkah pengetatan dengan menerapkan tarif hingga 50 persen terhadap ribuan produk dari negara-negara Asia sejak Januari, sebagai upaya menahan arus masuk barang impor.

        Para senator khawatir, celah dalam kerja sama perdagangan regional tersebut dapat dimanfaatkan produsen otomotif China untuk mengakses pasar AS tanpa harus menghadapi hambatan tarif secara langsung.

        Namun demikian, sikap penolakan menyeluruh terhadap investasi dan kerja sama dengan China menuai kritik dari sejumlah pengamat.

        John Helveston, profesor dari George Washington University, menilai pendekatan tersebut justru berpotensi merugikan AS di tengah tantangan inovasi di sektor otomotif domestik.

        Menurut Helveston, masih terdapat berbagai skema kerja sama yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus meminimalkan risiko keamanan.

        Ia mencontohkan opsi seperti pelisensian teknologi dari perusahaan China atau pembentukan perusahaan patungan antara produsen AS dan China.

        Ia juga menekankan pentingnya prinsip timbal balik dalam hubungan dagang. Hal ini merujuk pada keberhasilan Tesla yang memperoleh izin untuk membangun dan memiliki secara penuh pabrik Gigafactory di Shanghai pada 2019, sebagai bukti bahwa kerja sama strategis tetap memungkinkan dengan pengaturan yang tepat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: