Tameng Lawan Inflasi, Miliarder Amerika Serikat Sebut Bitcoin Lebih Unggul dari Emas
Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Investor Miliarder asal Amerika Serikat, Paul Tudor Jones menilai bitcoin sebagai aset lindung nilai inflasi terbaik, bahkan lebih unggul dibandingkan emas. Hal ini menyusul jumlah pasokannya yang terbatas secara permanen.
Jones menekankan bahwa keunggulan utama bitcoin terletak pada jumlah pasokannya yang terbatas di mana hal itu berbeda dengan emas yang produksinya terus bertambah setiap tahun. Diketahui, bitcoin memiliki batas maksimum 21 juta koin, sehingga dinilai lebih langka secara struktural.
Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini (29/4): Data Ekonomi Amerika Serikat Gagalkan Rally
Menurut Jones, aset lindung nilai inflasi biasanya menguat saat terjadi pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal besar-besaran. Ia menilai lonjakan likuiditas dari bank sentral mendorong munculnya peluang di aset seperti bitcoin.
“Ketika intervensi besar terjadi, perdagangan berbasis inflasi akan meningkat,” ujarnya.
Di sisi lain, Jones menyampaikan pandangan hati-hati terhadap pasar saham, khususnya indeks S&P 500. Ia memperingatkan bahwa valuasi saat ini berada di level tinggi dan berpotensi menghasilkan imbal hasil negatif dalam jangka panjang.
Jones juga menyoroti sejumlah faktor yang dapat menekan pasar, seperti meningkatnya jumlah penawaran saham perdana (IPO) serta menurunnya aksi pembelian kembali saham oleh perusahaan.
Jones mengungkapkan bahwa rasio kapitalisasi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini mendekati level ekstrem dalam sejarah dari Amerika Serikat. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode sebelum krisis besar, seperti:
- 1929: sekitar 65%
- 1987: sekitar 85–90%
- 2000 (gelembung dotcom): sekitar 270%
- 2026: sekitar 252%
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan tingkat leverage yang tinggi di pasar saham. Jones memperingatkan bahwa jika terjadi koreksi besar di pasar saham, dampaknya bisa meluas ke ekonomi secara keseluruhan.
Penurunan capital gain dapat mengurangi penerimaan pajak pemerintah, memperbesar defisit anggaran dan menekan pasar obligasi. Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi menciptakan efek negatif berantai di sistem keuangan.
Pandangan Jones memperkuat tren bahwa bitcoin semakin dilihat sebagai aset makro global, bukan sekadar instrumen spekulatif. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya inflasi, Bitcoin dinilai menjadi alternatif menarik bagi investor.
Baca Juga: Inilah Alasan Harga Bitcoin Gagal Tembus US$80.000
Jones, meski optimistis terhadap bitcoin, tidak menyebut kondisi saat ini sebagai gelembung penuh. Namun, ia menegaskan bahwa pasar keuangan global sedang menghadapi tekanan besar dari berbagai sisi. Kondisi ini membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi investasi ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: