Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kalau Bersatu, China Janjikan Lonjakan Ekonomi ke Taiwan

        Kalau Bersatu, China Janjikan Lonjakan Ekonomi ke Taiwan Kredit Foto: Reuters/Thomas Peter
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        China kembali menyuarakan ajakan reunifikasi ke Taiwan. Beijing menjanjikan wilayah tersebut akan akan memperoleh peluang ayng belum pernah terjadi sebelumnya jika menyetujui penyatuan dengan China.

        Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan-China, Chen Binhua mengatakan bahwa integrasi ekonomi dengan pasar negaranya akan memberikan dorongan besar bagi pertumbuhan dari Taiwan.

        Baca Juga: Armada Siaga, Taiwan Pantau Dua Kapal Perang China

        Menurut Chen, ekonomi wilayah tersebut akan mendapatkan “vitalitas baru” dengan memanfaatkan pasar domestik yang sangat besar, serta kekuatan mereka di sektor teknologi dan sumber daya manusia.

        “Reunifikasi damai akan memberikan kepastian dan potensi pertumbuhan yang lebih besar bagi lingkungan investasi Taiwan,” ujarnya.

        Taiwan saat ini merupakan produsen utama semikonduktor canggih dunia, yang menjadi tulang punggung perkembangan kecerdasan buatan global. Ekonomi Taiwan juga tengah mencatat kinerja kuat, dengan pertumbuhan mencapai 8,68% pada 2025.

        China sejak akhir tahun lalu meningkatkan kampanye untuk mendorong apa yang disebut sebagai reunifikasi damai. Namun, Beijing tetap tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan tersebut.

        Adapun Presiden Taiwan, Lai Ching-te, kembali menolak tawaran dari Beijing. Ia menegaskan bahwa masa depan wilayahnya hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

        “Penyatuan yang dibungkus sebagai perdamaian justru akan membawa masalah tanpa akhir,” kata Lai.

        Lai juga menyoroti meningkatnya tekanan dari China. Ia menuduh mereka menggunakan taktik “grey zone”, seperti pengerahan kapal perang dan pesawat militer secara rutin untuk menekan tanpa konflik terbuka.

        Beijing sendiri menyatakan aktivitas militernya di sekitar wilayah tersebut sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan karena mereka menilai dirinya sebagai pemilik dari Taiwan.

        Baca Juga: Tameng Lawan Inflasi, Miliarder Amerika Serikat Sebut Bitcoin Lebih Unggul dari Emas

        Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa konflik antara kedua pihak tidak hanya bersifat geopolitik, tetapi juga menyangkut masa depan ekonomi kawasan. Dengan penolakan tegas dan meningkatnya tekanan militer, peluang terwujudnya reunifikasi dalam waktu dekat masih sangat kecil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: