Iran Siapkan Regulasi Lalu Lintas Selat Hormuz: Kapal Israel Dilarang Lewat
Kredit Foto: Istimewa
Iran kembali mengumumkan rencana tekanan baru terhadap Israel dan Amerika Serikat. Kali ini mereka berupaya untuk melarang kapal-kapal yang terkait dengan kedua negara untuk melewati wilayah dari Selat Hormuz.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Haji-Babaei, menyatakan bahwa negaranya tengah menyiapkan undang-undang baru yang akan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Baca Juga: Amerika Serikat Sita Hampir US$500 Juta Aset Kripto Iran
Haji-Babaei menegaskan bahwa kapal yang terkait dengan kedua negara akan dilarang melintasi jalur strategis tersebut kapan pun. Rancangan undang-undang tersebut juga mengatur bahwa kapal dari negara yang dianggap musuh hanya dapat melintas jika negara asalnya membayar kompensasi perang.
Untuk kapal dari negara lain, pihaknya mensyaratkan adanya izin dan persetujuan resmi sebelum dapat melintas di selat tersebut. Haji-Babaei menegaskan bahwa arus pelayaran global tidak akan kembali seperti sebelum konflik dari Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Pembatasan baru ini berpotensi memperpanjang gangguan pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak mengingat pentingnya kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Ia diketahui merupakan salah satu jalur paling penting bagi perdagangan minyak dan gas global.
Adapun Amerika Serikat sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Hal ini menyusul belum usainya konflik kedua negara yang terus berkecambuk di Timur Tengah.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyatakan pihaknya telah meningkatkan tekanan finansial terhadap negara tersebut guna melemahkan jaringan ekonomi Teheran. Lewat “Economic Fury”, pihaknya tengah menargetkan berbagai jaringan penting dari Iran.
"Kami telah menargetkan infrastruktur perbankan bayangan internasional, akses ke kripto, armada bayangan, serta jaringan pengadaan senjata dari Iran," ujarnya.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk memutus pendanaan kelompok proksi serta kilang independenyang mendukung perdagangan minyak dari Iran. Bessent mengklaim kebijakan tersebut telah mengganggu puluhan miliar dolar pendapatan dari Teheran.
"Tindakan ini telah mengganggu puluhan miliar dolar yang sebelumnya digunakan untuk mendanai pemerintah dari Iran," katanya.
Menurutnya, tekanan tersebut menyebabkan inflasi dmeningkat dua kali lipat dan nilai mata uangnya melemah tajam. Semua hal tersebut akan menjadi tekanan ekonomi yang dirasakan oleh Iran.
Amerika Serikat juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan yang berdampak langsung pada perdagangan minyak dari Iran. Bessent menyebut terminal ekspor utama dari negara itu mendekati kapasitas penyimpanan maksimum.
"Kondisi ini akan memaksa rezim mereka mengurangi produksi minyak," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut menyebabkan kerugian sekitar US$170 juta per hari bagi Iran. Selain itu, tekanan ini juga disebut berpotensi menimbulkan kerusakan permanen pada infrastruktur minyak dari negara tersebut.
Baca Juga: Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon
Langkah ini merupakan bagian dari kampanye “maximum pressure” dari Amerika Serikat. Washington ingin memaksa negara tersebut untuk bernegosiasi dengan kondisinya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: