Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon

Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat buka suara terkait dengan kemungkinan negosiasi dengan Iran. Pihaknya mengatakan bahwa negosiasi masih berlangsung namun kini dilakukan melalui sambungan telepon, bukan pertemuan langsung di Pakistan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan pembicaraan langsung tidak efisien karena memerlukan perjalanan panjang tanpa adanya garansi hasil yang memuaskan dari Iran.

Baca Juga: IAEA: Uranium Iran Kemungkinan Masih Tersimpan di Isfahan

“Kami tidak terbang lagi dengan penerbangan 18 jam hanya untuk melihat selembar kertas. Sekarang kami melakukannya lewat telepon, dan itu jauh lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menyindir bahwa hasil negosiasi sering kali sudah bisa diprediksi sebelum pertemuan dilakukan. Meski format berubah, sang presiden menyebut proses negosiasi telah menunjukkan kemajuan.

“Pembicaraan sudah berjalan jauh,” katanya.

Namun, Trump kembali menegaskan bahwa kesepakatan tidak akan tercapai tanpa komitmen dari Iran. Ia ingin negara tersebut untuk menghentikan ambisinya mengembangkan senjata nuklir.

“Tidak akan pernah ada kesepakatan jika mereka tidak setuju bahwa tidak akan ada senjata nuklir,” tegasnya.

Adapun Trump sebelumnya memberikan sinyal penolakan atas prorposal dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.

Langkah beralih ke komunikasi jarak jauh menunjukkan diplomasi masih berlangsung meski situasi geopolitik tetap tegang. Pendekatan telepon dianggap lebih cepat dan efisien dibandingkan pertemuan langsung yang memakan waktu dan biaya besar.

Baca Juga: Trump: Iran Cuma Perlu Menyerah ke Amerika Serikat

Washington tetap mempertahankan garis keras terkait isu nuklir sebagai syarat utama kesepakatan. Meski ada kemajuan, perbedaan posisi mendasar masih menjadi hambatan utama. Dengan dinamika yang terus berubah, arah akhir dari negosiasi kedua negara masih belum jelas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar