Kredit Foto: Zabra
Meta Platforms menyebut bahwa akal imitasi (AI) menjadi alasan perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Meta, Platforms, Mark Zuckerberg.
Zuckerberg mengungkapkan bahwa rencana pemutusan hubungan kerja di perusahaannya dipicu oleh meningkatnya investasi dalam teknologi kecerdasan buatan, seiring dengan permintaan yang tumbuh pesat secara global.
Baca Juga: Pakar: Hambatan Utama Negosiasi Amerika Serikat-Iran Bukan Soal Nuklir
Ia menjelaskan bahwa pihaknya memiliki dua pusat biaya utama yakni infrastruktur komputasi dan biaya terkait tenaga kerja. Menurutnya, peningkatan investasi di sektor akal imitasi membuat perusahaan harus menyesuaikan alokasi anggaran.
“Jika kami berinvestasi lebih banyak di satu area, maka kami harus mengurangi alokasi di area lain,” ujar Zuckerberg.
Ia menambahkan bahwa hal tersebut membuat perusahaan perlu mengurangi ukuran tenaga kerja. Meta sendiri berencana memangkas sekitar 10% karyawan pada 20 Mei. Ia juga membuka kemungkinan tambahan pemangkasan pada paruh kedua tahun ini.
Meta saat ini tengah mengembangkan agen akal imitasi yang mampu menjalankan tugas kerja secara mandiri. Selain itu, perusahaan tengah berinisiatif melacak aktivitas karyawan, seperti pergerakan mouse dan ketikan, yang dicurigai akan digunakan untuk melatih sistem akal imitasi.
Namun Zuckerberg menyatakan bahwa penggunaan alat akal imitasi internal untuk meningkatkan efisiensi bukan menjadi penyebab langsung dari PHK.
Zuckerberg juga menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja tidak berkaitan langsung dengan restrukturisasi organisasi menuju model "native-AI”.
Ia juga mengakui tidak dapat memprediksi secara pasti arah perkembangan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Kebijakan ini memicu kritik internal dari karyawan, terutama karena perusahaan dinilai kurang transparan terkait PHK.
Langkah ini mencerminkan strategi perusahaan tersebut yang semakin agresif dalam membangun infrastruktur terkait AI. Keputusan Meta mencerminkan tren global di industri teknologi yang semakin mengutamakan investasi akal imitasi dibandingkan ekspansi tenaga kerja.
Sebelumnya, Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai ada beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan administrasi hingga analisis memang sangat rentan digantikan dengan akal imitasi.
Di sisi lain, menurutnya ada peluang puluhan juta lapangan kerja baru yang tercipta yang berkaitan dengan teknologi. Permintaan lapangan kerja sebagai data programming akan melonjak.
Baca Juga: Indonesia Siapkan Senjata Rahasia Dorong Ekonomi di Tengah Krisis Dunia
"Evolusi ini tidak bisa kita hindari karena kemajuan teknologi ini semakin membuat disrupsi, termasuk di Indonesia. Maka yang harus diperhatikan adalah sumber daya manusianya," kata Huda.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar