Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Beijing dan Filipina Saling Tuduh Aktivitas Ilegal di Laut China Selatan

        Beijing dan Filipina Saling Tuduh Aktivitas Ilegal di Laut China Selatan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Hubungan China dan Filipina kembali memanas menyusul sengketa wilayah antara kedua negara di Laut China Selatan. Beijing baru-baru ini menuduh negara tetangganya itu mendaratkan personel di kawasan sengketadari  Sandy Cay di Laut China Selatan.

        Penjaga Pantai China menyebut telah mengidentifikasi lima personel asing yang mendarat di Sandy Cay. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai ilegal yang dilakukan oleh Filipina.

        Baca Juga: Amerika Serikat dan Filipina Uji Rudal Anti-Kapal di Laut China Selatan

        “Kami menganggap pendaratan tersebut sebagai tindakan ilegal,” demikian pernyataan pihak dari China.

        Sementara Filipina mengatakan telah mengirim kapal penjaga pantai ke kawasan tersebut setelah laporan adanya personel dari China di Sandy Cay. Pihaknya geram karena personel itu datang sambil membawa bendera dari China.

        Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina menyatakan bahwa pihaknya juga telah mendeteksi empat kapal China yang melakukan aktivitas penelitian tanpa izin dalam wilayahnya.

        “Kami menganggap aktivitas tersebut sebagai penelitian ilegal di perairan kami,” ujarnya.

        Ia menambahkan bahwa pihaknya siap mengerahkan kapal dan pesawat untuk memaksa kapal-kapal tersebut meninggalkan area.

        “Kami siap mengirimkan kapal dan pesawat untuk mengusir mereka jika diperlukan,” katanya.

        Sengketa di Laut China Selatan terus menjadi sumber ketegangan geopolitik dalam kawasan, dengan kedua negara meningkatkan aktivitas maritim di wilayah yang sama-sama mereka klaim.

        Terbaru, Filipina dan Amerika Serikat memamerkan sistem rudal anti-kapal atau Navy-Marine Expeditionary Ship Interdiction System (NMESIS) dalam latihan militer tahunan dalam sebuah wilayah yang dekat dengan Taiwan. Hal ini menyusul meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

        Sersan Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Darren Gibbs mengatakan bahwa pihaknya baru-baru ini menggelar latihan bersama dengan Filipina di Provinsi Batanes. Wilayah tersebut merupakan satu titik utama persaingan kekuatan dari Amerika Serikatdan China di Asia-Pasifik.

        “Latihan di Batanes memberi kami lingkungan yang berbeda dari biasanya, sehingga memberikan peluang unik untuk menggunakan sistem ini dan melatih kemampuan kami,” ujarnya.

        Adapun ia menjelaskan terkait dengan penggunaan sistem rudal anti-kapal. Teknologi tersebut dirancang untuk dioperasikan dari jarak jauh tanpa awak di dalam kendaraan.

        Baca Juga: Cetak Rekor! 24,8 Juta Penumpang Naik Kereta Api Saat Hari Buruh di China

        “Tujuan sistem ini adalah sepenuhnya otonom, sehingga tidak memerlukan pengemudi atau penumpang di dalamnya. Kami hanya memberi tahu ke mana harus pergi dan memprogram apa yang harus dilakukan,” kata Gibbs.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: