Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Buana Finance Salurkan Pembiayaan Rp4,29 Triliun

        Buana Finance Salurkan Pembiayaan Rp4,29 Triliun Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Buana Finance Tbk (BBLD) menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp4,29 triliun sepanjang 2025 atau tumbuh 5,03% dibandingkan Rp4,09 triliun pada periode sebelumnya, di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan yang masih membayangi industri pembiayaan nasional.

        Pertumbuhan pembiayaan tersebut ditopang segmen pembiayaan konsumen yang menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp3,11 triliun. Sementara segmen sewa pembiayaan dan anjak piutang menyumbang Rp1,18 triliun.

        Sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan, aset Perseroan meningkat 7,72% menjadi Rp7,15 triliun pada 2025 dari sebelumnya Rp6,64 triliun. Peningkatan aset didorong pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 7,05% menjadi Rp6,57 triliun dari Rp6,14 triliun.

        Komposisi aset perusahaan masih didominasi piutang pembiayaan konsumen dengan kontribusi 79,20%. Adapun piutang sewa pembiayaan dan anjak piutang menyumbang 12,71% terhadap total aset.

        Namun, pertumbuhan bisnis tersebut berlangsung di tengah tekanan profitabilitas dan kenaikan risiko pembiayaan. Buana Finance mencatat laba bersih sebesar Rp13,48 miliar pada 2025, di saat rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) meningkat.

        Direktur Keuangan Buana Finance Mariana Setyadi mengatakan kondisi makroekonomi turut memengaruhi kinerja perusahaan, terutama dari sisi laba bersih.

        “Penurunan laba bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, termasuk peningkatan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 44,71%,” ujar Mariana dalam acara Public Expose, Senin (18/5/2026).

        Tekanan terhadap kualitas pembiayaan juga terlihat dari kenaikan rasio NPF. Pada 2024, NPF Perseroan tercatat sebesar 1,97%, lalu meningkat menjadi 3,12% pada akhir 2025.

        Baca Juga: Kebutuhan Pembiayaan RI Capai Rp9.200 Triliun di 2029, OJK dan BEI Diminta Jaga Kepercayaan Investor

        Baca Juga: OJK Ungkap Pembiayaan Multifinance Hanya Tumbuh Tipis 0,61%

        Baca Juga: OJK Warning! Praktik 'STNK Only' Ancam Industri Pembiayaan

        Kenaikan rasio tersebut terjadi di tengah tantangan industri pembiayaan yang masih dipengaruhi dinamika ekonomi dan kondisi daya beli.

        Untuk menjaga kualitas aset, Perseroan menyatakan akan memperkuat pengelolaan risiko dan strategi penagihan guna menekan potensi kenaikan pembiayaan bermasalah.

        “Perseroan tetap menjaga fundamental bisnis yang sehat melalui pengendalian biaya yang lebih disiplin dan penerapan strategi mitigasi risiko yang konsisten,” ujar Mariana.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: