El Nino dan Karhutla Intai Indonesia, BMKG Waspadai Ancaman Musim Kemarau 2026
Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ancaman musim kemarau 2026 di Indonesia berpotensi meningkat akibat dinamika iklim global, termasuk peluang berkembangnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif.
Peringatan tersebut disampaikan dalam Rapat Pembahasan Perkembangan Kondisi Iklim Indonesia Tahun 2026 bersama Kementerian PPN/Bappenas di Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG, Jakarta, dikutip Rabu (20/5/2026).
Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan perubahan iklim global berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
“Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” ujar Guswanto.
Menurut BMKG, kondisi tersebut dapat memicu berbagai ancaman seperti kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pada sektor pangan dan sumber daya air nasional.
BMKG mencatat sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mulai memasuki kondisi yang lebih mudah terbakar sehingga kewaspadaan terhadap potensi karhutla harus ditingkatkan.
Selain itu, pemerintah juga menyoroti potensi terganggunya sektor pertanian akibat berkurangnya curah hujan selama musim kemarau berlangsung.
BMKG menegaskan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau harus dilakukan berbasis data dan prediksi cuaca yang akurat agar mitigasi dapat berjalan lebih efektif.
Baca Juga: Dunia Akan Dipaksa Iran Ikuti Mekanisme Baru Jika Ingin Lewat Selat Hormuz
“Informasi kepada masyarakat harus terus tersampaikan agar upaya mitigasi dapat dilakukan lebih dini dan efektif,” kata Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar