Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Universitas Al Azhar Indonesia dan University of Edinburgh Dorong Inklusivitas Riset, Luncurkan Policy Brief untuk Peneliti Tunanetra

        Universitas Al Azhar Indonesia  dan University of Edinburgh Dorong Inklusivitas Riset, Luncurkan Policy Brief untuk Peneliti Tunanetra Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) bersama University of Edinburgh meluncurkan policy brief berjudul “Promoting Academic Success for Researchers with Visual Impairment” dalam forum diseminasi di Grand Dhika Ballroom, Jakarta, Kamis 21 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mendorong akses dan peluang yang lebih setara bagi peneliti penyandang disabilitas netra di lingkungan akademik Indonesia.

        "Pada 2023, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus kebutaan terbanyak ketiga di dunia. Meski Undang-Undang Penyandang Disabilitas Pasal 53 mewajibkan instansi pemerintah dan BUMN mempekerjakan minimal 2% penyandang disabilitas, termasuk di perguruan tinggi, namun implementasinya di lapangan masih jauh dari target," sebut penyelenggara dalam keterangan tertulisnya.

        Dalam keterangannya menjelaskan bahwa Policy brief hasil kolaborasi UAI dan University of Edinburgh mengidentifikasi tiga hambatan utama yang dihadapi peneliti tunanetra yakni keterbatasan akses pendidikan pascasarjana, minimnya dukungan teknologi dan aksesibilitas dalam riset, serta sempitnya peluang kerja akibat stigma sosial.

        Dalam dokumen Policy brief,  kebijakan ini mengajukan empat rekomendasi utama:

        Pertama, penguatan infrastruktur informasi digital akademik. Jurnal ilmiah diminta memastikan artikel dapat diakses pengguna screen reader, sekaligus menjadikan standar aksesibilitas sebagai kriteria akreditasi di indeks SINTA.

        Kedua, kesetaraan peluang kerja bagi peneliti penyandang disabilitas. Perguruan tinggi diharapkan memiliki regulasi eksplisit yang membuka ruang bagi peneliti tunanetra, dengan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan ketenagakerjaan inklusif.

        Ketiga, dukungan aksesibel yang menyeluruh untuk riset yang didanai pemerintah. Akses informasi, kuota, dan kesetaraan peluang perlu menjadi bagian integral dari skema pendanaan.

        Keempat, identifikasi kebutuhan aksesibilitas individu. Perguruan tinggi diminta menyediakan staf khusus di unit SDM, fasilitas alat bantu riset, serta sistem dan regulasi yang responsif terhadap kebutuhan peneliti baru penyandang disabilitas.

        Kegiatan seminar ini dibuka oleh Rektor UAI Prof. Dr. Widodo Muktiyo dengan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain keynote speech dari Jonna Aman Damanik, pemaparan policy brief oleh Prof. John Ravenscroft dari University of Edinburgh, serta temuan lapangan dari Cut Meutia Karolina dan materi dari Dewi Wulandari, Ketua Tim Pembelajaran Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek. Dan dihadiri perwakilan pemerintah, pengelola perguruan tinggi, serta asosiasi dan komunitas disabilitas, termasuk Komisi Nasional Disabilitas, LLDIKTI Wilayah III, Kementerian Ketenagakerjaan, BRIN, Bappenas, PERTUNI, dan PELITA.

        Proyek ini didanai melalui hibah Going Global Partnership British Council sebagai hasil kerja sama UAI dan University of Edinburgh, Skotlandia. Para pihak menekankan bahwa keberhasilan implementasi rekomendasi memerlukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari regulator, perguruan tinggi, hingga editor jurnal ilmiah.

        Dengan peluncuran policy brief ini, UAI dan mitra berharap Indonesia dapat memperluas ruang bagi peneliti penyandang disabilitas netra untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Sufri Yuliardi

        Bagikan Artikel: