Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kelapa Tak Lagi Dijual Mentah, Hilirisasi Jadi Kunci Naik Kelas UMKM Sumsel

        Kelapa Tak Lagi Dijual Mentah, Hilirisasi Jadi Kunci Naik Kelas UMKM Sumsel Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sumatera Selatan mendorong pengembangan industri kelapa dari sektor hulu hingga hilir sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha dan UMKM.

        Adapun upaya tersebut tergambar dari gelaran SIinara Fest 2026 pada 21–22 Mei 2026 di Kanwil DJPb Sumatera Selatan.  Dengan mengusung tema “Sinergi Lintas Sektor Untuk Mendukung 100 Ribu Sultan Muda Sumsel: Menggerek Potensi Kelapa dari Hulu ke Pasar Global”, SINARA FEST 2026 menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan, khususnya kelapa, guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar. 

        Sinara Fest menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan interaktif yang meliputi sosialisasi program strategis BPDP, diskusi publik lintas instansi, demonstrasi memasak dan pelatihan kuliner berbasis komoditas perkebunan, mini bazaar UMKM, hingga booth edukasi interaktif. 

        Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP Pangihutan Siagian mengatakan Sinara Fest dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan, meningkatkan daya saing UMKM, dan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal Sumatera Selatan.

        “SINARA FEST bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang sinergi untuk mendorong pengembangan komoditas perkebunan dari hulu hingga hilir agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan UMKM,” ujarnya. 

        Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah memaparkan berbagai peran BPDP dalam mendukung penguatan industri hilir kelapa. Menurutnya, penguatan sektor hulu menjadi fondasi utama untuk memastikan hilirisasi komoditas kelapa berjalan berkelanjutan.

        Ia menegaskan bahwa peningkatan produktivitas dan daya saing industri kelapa nasional memerlukan dukungan riset dan inovasi, promosi yang berkelanjutan, serta pengembangan pasar yang lebih luas. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat posisi produk kelapa Indonesia di pasar global.

        Sementara itu, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan Rahmadi Murwanto menyoroti keterkaitan pengembangan industri kelapa dengan program strategis Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, yakni 100.000 Sultan Muda. Program tersebut diarahkan untuk mencetak generasi wirausaha muda yang kreatif, mandiri, dan mampu memanfaatkan potensi ekonomi daerah.

        Menurut Rahmadi, program tersebut dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu keterampilan, akses permodalan, dan mental baja.

        “Kami berharap sinergi antara BPDP, DJPb, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder dapat terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan yang mampu mendorong UMKM naik kelas dan memiliki daya saing,” ujarnya.

        Baca Juga: BPDP Buka Pendaftaran Grant Riset 2026 untuk Dorong Riset Kelapa Sawit, Kakao, dan Kelapa

        Baca Juga: Dari Desa ke Dunia: Olahan Sabut Kelapa Minahasa Go Internasional

        Penguatan akses pasar internasional juga menjadi salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan tersebut. Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Yanti Sarmuhidayanti menyampaikan materi mengenai UMKM Go Ekspor dan peluang pengembangan pasar global bagi pelaku usaha berbasis komoditas perkebunan.

        Selain itu, Kepala Tim Perumusan dan Implementasi Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Muhamad Ardian Dwinanto memaparkan perkembangan makroekonomi Sumatera Selatan serta dukungan terhadap pengembangan komoditas kelapa dan kewirausahaan muda.

        Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengembangan UMKM yang efektif membutuhkan kombinasi modal sosial yang kuat, pendampingan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, serta akses pasar yang memadai agar pelaku usaha dapat naik kelas dan bersaing secara berkelanjutan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: