Komdigi Gandeng Google Bangun Ekosistem Digital Aman untuk Anak
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menargetkan Indonesia menjadi rujukan global dalam tata kelola pelindungan anak di ruang digital melalui pendekatan regulasi berbasis risiko (risk-based approach). Model tersebut diharapkan mampu menjaga keamanan anak di dunia digital tanpa menghambat inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat menerima audiensi Vice President Government Affairs and Public Policy Google Markham Erickson di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurut Meutya, pemerintah memilih pendekatan berbasis risiko dibandingkan pelarangan menyeluruh terhadap penggunaan teknologi digital. Model ini dinilai mampu menciptakan ruang digital yang aman sekaligus tetap mendukung inovasi dan perkembangan ekosistem digital.
“Kami ingin Indonesia menjadi salah satu model bagi negara lain dalam hal regulasi untuk melindungi anak-anak di ruang digital. Pendekatan yang kami pilih bukan larangan menyeluruh, melainkan pendekatan berbasis risiko sehingga ruang digital tetap aman sekaligus mendukung inovasi,” ujar Meutya.
Ia menegaskan, pelindungan anak tidak cukup hanya melalui regulasi, tetapi juga harus didukung solusi teknologi yang mampu mengurangi risiko sejak layanan digital dirancang (safety by design). Karena itu, platform digital didorong menghadirkan fitur keamanan yang efektif dan berkelanjutan.
“Kami tidak hanya mengetahui berbagai risiko yang dihadapi anak-anak di ruang digital, tetapi kami juga membutuhkan solusi. Platform digital memiliki pengetahuan dan kemampuan teknologi untuk menghadirkan fitur-fitur yang dapat menurunkan risiko tersebut sejak awal perancangan produknya,” katanya.
Menurut Meutya, berbagai inovasi seperti pengaturan durasi penggunaan (screen time), fitur pengawasan orang tua (parental control), hingga mekanisme penyaringan konten berisiko perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari standar pelindungan anak di ruang digital.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang untuk membangun model tata kelola digital yang dapat menjadi referensi internasional.
“Jika kita dapat membangun model fitur yang efektif dalam menurunkan risiko bagi anak-anak, maka model tersebut dapat menjadi acuan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Meutya menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan anak-anak tetap memperoleh manfaat teknologi digital untuk belajar dan berkembang, namun di saat yang sama terlindungi dari berbagai potensi risiko.
Menurutnya, isu pelindungan anak di ruang digital kini menjadi perhatian global sehingga membutuhkan kolaborasi lintas negara, pemerintah, dan penyedia platform digital.
“Saya tidak ingin gerakan pelindungan anak berhenti hanya karena pendekatan yang diterapkan di berbagai negara tidak tepat. Karena itu, Indonesia ingin menawarkan model yang seimbang, melindungi anak-anak sekaligus tetap memberi ruang bagi inovasi teknologi berkembang secara bertanggung jawab,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Vice President Government Affairs and Public Policy Google Markham Erickson menyatakan dukungannya terhadap pendekatan regulasi Indonesia.
Baca Juga: Komdigi Kaji Putusan MK soal Kuota Internet Tak Boleh Hangus
Baca Juga: Menkomdigi Meutya Minta Registrasi SIM Biometrik Tetap Mudah dan Inklusif
Baca Juga: Ombudsman Nilai Pelayanan Publik Komdigi Bebas Maladministrasi Dua Tahun Berturut-turut
Menurutnya, pendekatan berbasis risiko lebih efektif dibandingkan pelarangan menyeluruh karena mampu memfokuskan regulasi pada faktor-faktor yang benar-benar menimbulkan risiko bagi anak.
“Kami menilai pendekatan berbasis risiko merupakan pendekatan yang lebih cerdas. Regulasi tidak harus berupa larangan menyeluruh, tetapi dapat difokuskan pada faktor-faktor yang benar-benar menimbulkan risiko bagi anak,” ujar Markham.
Dalam pertemuan tersebut, Google juga memaparkan sejumlah inisiatif pelindungan anak yang telah diterapkan, antara lain penilaian risiko produk digital, pelatihan literasi digital bagi lebih dari 1.100 komunitas orang tua bersama BPSDM Kemkomdigi dan ICT Watch, pengembangan Google Family Link, pembatasan hasil pencarian untuk kata kunci berisiko, serta pembaruan fitur keamanan di YouTube.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri