Bukan 'Serangan Mendadak' Biasa, Ada Bau Operasi Intelijen di Balik Serangan Terbaru Amerika ke Iran
Kredit Foto: Istimewa
Serangan mendadak Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran di sekitar Selat Hormuz dinilai bukan sekadar aksi militer spontan atau “kejutan” biasa di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung.
Mantan diplomat dan Pejabat Pentagon, Adam Clements, menilai operasi militer Washington kemungkinan memiliki tujuan lebih besar, yakni mengumpulkan intelijen strategis mengenai kekuatan maritim Iran.
Baca Juga: Trump: Uranium Nuklir Iran Akan Dibawa ke Amerika Serikat
Menurut Clements, langkah militer Amerika Serikat di sekitar pelabuhan Bandar Abbas menunjukkan adanya upaya membaca kemampuan pertahanan laut Iran di jalur energi paling vital dunia tersebut.
“It seems to be that’s what the US acted on,” ujar Clements kepada Al Jazeera.
Ia merujuk pada laporan bahwa pasukan AS menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang diduga hendak menanam ranjau laut di Selat Hormuz.
Ia mengatakan serangan tersebut kemungkinan berkaitan dengan upaya Washington memahami aset militer Iran yang berada di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut.
Clements juga menilai Iran seharusnya tidak terkejut dengan respons militer Amerika Serikat apabila benar ada aktivitas pemasangan ranjau di wilayah perairan internasional.
“It should not come as a surprise to the Iranians that the US would act this way,” katanya.
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM mengonfirmasi pihaknya melakukan “self-defense strikes” terhadap target-target militer Iran di selatan negara tersebut.
Serangan itu dilakukan di tengah proses negosiasi perdamaian dan gencatan senjata antara kedua negara.
Juru bicara CENTCOM, Timothy Hawkins, mengatakan target serangan meliputi lokasi peluncuran rudal serta kapal Iran yang disebut mencoba menempatkan ranjau laut di sekitar Selat Hormuz.
“U.S. forces conducted self-defense strikes in southern Iran today to protect our troops from threats posed by Iranian forces,” kata Hawkins kepada CNN.
Menurut CENTCOM, operasi itu dilakukan untuk melindungi kapal perang dan pasukan Amerika Serikat yang melintas di kawasan tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Ketegangan di wilayah itu selama ini selalu memicu kekhawatiran global karena dapat mengganggu pasokan energi internasional dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Sebelumnya, pasukan AS dan Iran juga beberapa kali terlibat saling serang selama masa gencatan senjata berlangsung.
Pada awal Mei lalu, Amerika Serikat menyerang fasilitas militer Iran yang dituduh bertanggung jawab atas serangan drone, rudal, dan kapal kecil terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump bahkan telah memberikan otorisasi kepada militer AS untuk merespons setiap provokasi Iran di jalur laut strategis tersebut.
Baca Juga: Senator Amerika Akui Negaranya Gagal Tekuk Iran: Mereka Justru Makin Kuat Setelah Perang
Situasi ini membuat banyak pihak khawatir bahwa konflik di Timur Tengah sewaktu-waktu dapat kembali meledak meski pembicaraan damai masih berlangsung.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: