Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        China Tolak RTX 5090D V2, Nvidia 'Pede' Pasar Prosesor Vera Bernilai Rp3.565 Triliun

        China Tolak RTX 5090D V2, Nvidia 'Pede' Pasar Prosesor Vera Bernilai Rp3.565 Triliun Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Langkah China yang disebut melarang perusahaan-perusahaan di dalam negerinya membeli RTX 5090D V2 dari Nvidia memunculkan berbagai spekulasi baru di tengah persaingan teknologi global. Kebijakan tersebut bahkan terjadi saat CEO Nvidia Jensen Huang turut mendampingi Donald Trump dalam kunjungan ke Beijing pada 13 hingga 15 Mei 2026.

        Sejumlah dugaan muncul terkait kebijakan terbaru yang dikaitkan dengan Xi Jinping tersebut. Salah satu spekulasi menyebut China tidak tertarik dengan teknologi Amerika Serikat yang dinilai "biasa". Di sisi lain, langkah itu juga dipandang sebagai sinyal bahwa China tengah membantu Huawei untuk memperkuat persaingan melawan Nvidia.

        Di tengah potensi penurunan pasar Nvidia di China, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu justru mengarahkan fokus ke peluang bisnis baru yang jauh lebih besar.

        CEO Nvidia Jensen Huang mengungkapkan pihaknya membidik pasar baru senilai 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.565 Triliun melalui prosesor Vera Central, chip yang dirancang khusus untuk kecerdasan buatan berbasis agen atau agentic AI.

        Menurut laporan TechCrunch yang mengutip paparan Huang kepada investor terkait hasil keuangan terbaru Nvidia, prosesor Vera yang diperkenalkan pada Maret 2026 disebut sebagai CPU pertama di dunia yang dirancang secara khusus untuk agen AI.

        Chip tersebut dapat dipasarkan secara terpisah ataupun dipadukan dengan GPU Rubin terbaru. Vera juga memiliki perbedaan mendasar dibanding prosesor cloud konvensional karena arsitekturnya dioptimalkan untuk pemrosesan token dengan kecepatan tinggi, bukan menjalankan banyak aplikasi secara bersamaan.

        "Vera membuka pasar baru senilai 200 miliar dolar AS untuk Nvidia yang belum pernah kami kerjakan sebelumnya. Setiap hyperscaler besar dan produsen sistem bekerja sama dengan kami untuk menerapkannya. Dunia sedang menata ulang komputasi untuk AI fisik berbasis agen dan robotik, dan Nvidia berada di pusat transisi ini," kata Huang.

        Huang menjelaskan GPU berperan penting dalam proses "berpikir" model AI. Namun, ketika agen AI menjalankan tugas tertentu, peran utama justru berada pada prosesor pusat atau CPU.

        Ia juga memastikan permintaan terhadap produk anyar Nvidia itu sudah mulai terbentuk. Tahun ini, penjualan prosesor Vera secara individual disebut telah mencapai 20 miliar dolar AS.

        Baca Juga: AS Masuk ke Wilayah Iran Lagi, Pesawat Tempur F-35 Disebut 'Lari' Setelah Drone MQ-9 Jatuh

        Menurut Huang, perkembangan AI berbasis agen akan mendorong kebutuhan komputasi dalam skala yang jauh lebih besar di masa mendatang.

        "Ada satu miliar pengguna manusia di dunia. Saya merasa akan ada miliaran agen di dunia di masa depan. Mereka semua akan menggunakan alat yang mirip dengan PC, sama seperti kita manusia menggunakan komputer saat ini. Kami akan membutuhkan lebih banyak CPU," ujarnya.

        Sebelumnya, Huang juga menyampaikan bahwa volume pesanan untuk chip Blackwell dan Vera Rubin generasi terbaru diproyeksikan mencapai 1 triliun dolar AS pada 2027.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: