Jalankan MBG di Tengah Tekanan Ekonomi, Prabowo Tak Bisa Disebut Keras Kepala
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Pegiat media sosial Ariyo Bimmo menilai Presiden Prabowo Subianto tidak bisa disebut keras kepala hanya karena tetap menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, dalam sudut pandang pemerintah, MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk menghadirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
"Ketika pemerintah tetap menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis, itu tidak otomatis berarti keras kepala. Karena dari perspektif pemerintah, program ini dipandang sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang," ucapnya, dikutip dari YouTube COKRO TV, Sabtu (30/5).
Ia menambahkan, pemerintah melihat MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan bagian dari strategi mengurangi stunting, meningkatkan kualitas gizi, mendorong produktivitas generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan.
Hal tersebut juga didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi masih sekitar 5%, inflasi terkendali, cadangan devisa besar, dan rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara lain. Data ini merujuk pada Bank Indonesia, BPS, dan Kementerian Keuangan.
Baca Juga: Prabowo–Macron Perkuat Diplomasi, 27 MoU Senilai USD 11 Miliar Dikawal
Meski demikian, Ariyo menegaskan kritik tetap sah untuk dilontarkan.
“Boleh dikritik? Tentu silakan. Perdebatkan efektivitasnya, silakan audit anggarannya, silakan koreksi implementasinya, itu sehat dalam demokrasi. Tetapi berbeda pendapat soal kebijakan tidak otomatis berarti negara sedang menuju kehancuran,” imbuhnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya