Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Panas! PSI Desak Jokowi Segera Deklarasi Gabung, PDIP Langsung Skakmat: Jokowi Tak Punya Dampak Elektoral!

        Panas! PSI Desak Jokowi Segera Deklarasi Gabung, PDIP Langsung Skakmat: Jokowi Tak Punya Dampak Elektoral! Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Hubungan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali memanas.

        Kali ini dipicu oleh desakan PSI yang berharap mantan Presiden ke-7 RI, Jokowi segera mendeklarasikan diri secara terbuka telah resmi bergabung dengan partai berlogo mawar tersebut.

        Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menyatakan harapan besarnya agar Jokowi memanfaatkan momentum rencana blusukannya ke sejumlah daerah dalam waktu dekat untuk mengumumkan status barunya ke publik.

        Bestari mengungkapkan, PSI sangat bangga karena selama 10 tahun menjabat sebagai presiden, Jokowi tidak pernah menyatakan dukungan formal terhadap partai manapun. Hal itu membuat efek ekor jas (coattail effect) Jokowi tersebar merata ke sejumlah partai dan tokoh politik.

        Kini, setelah purnatugas, PSI berharap seluruh dampak elektoral tersebut dapat mengalir penuh ke mereka.

        Tuntutan tersebut langsung mendapat respons dari pihak PDIP yang melampirkan sejumlah data bahwa Jokowi sebenarnya tidak memiliki pengaruh elektoral terhadap partai politik.

        Mendengar klaim dan harapan tinggi PSI, Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, langsung angkat bicara. Guntur membeberkan bukti dan data sejarah pemilu yang menunjukkan bahwa sosok Jokowi tidak memiliki pengaruh signifikan dalam mendongkrak perolehan suara partai politik.

        "Kemenangan PDIP Bukan karena Jokowi, pada Pemilu 2014, PDIP sudah memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg) pada April 2014, sebelum akhirnya ikut memenangkan Jokowi di Pilpres Juli 2014. Kemudian di Pemilu 2019, saat Jokowi menjabat sebagai presiden petahana, suara PDIP hanya naik tipis sebesar 0,38 poin," katanya.

        Guntur menuduh hal ini terjadi karena Jokowi egois. "Jokowi saat itu menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadinya, untuk pemenangan Pilpres 2019 saja, bukan untuk membesarkan PDIP," kata Guntur.

        Ia membandingkan hal ini dengan era SBY pada 2009, di mana suara Partai Demokrat melonjak hingga 180 persen. Menurut Guntur, pada 2019 sebenarnya Jokowi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda berkhianat kepada PDIP.

        "Sementara pada Pemilu 2024, di saat Jokowi memusuhi dan mencoba menghancurkan PDIP pada Pemilu 2024, PDIP tetap keluar sebagai partai pemenang pemilu. Artinya, PDI Perjuangan menang bukan karena Jokowi," tegas Guntur Romli.

        Bukti lain yang disampaikan Guntur adalah kegagalan PSI lolos ke DPR pada Pemilu 2024, meskipun partai tersebut kerap dikaitkan dengan Jokowi dan dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

        "Saat jadi Presiden saja, Jokowi tidak mampu meloloskan PSI ke parlemen, apalagi sekarang saat sudah tidak punya jabatan," ujar Guntur.

        Menutup pernyataannya, Guntur Romli menegaskan bahwa PSI terlalu berharap banyak pada figur yang menurutnya tidak terbukti mampu memberikan dampak elektoral signifikan bagi partai politik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: