Harga Bensin Meroket Tajam karena Perang Iran dan Amerika, Trump: Rakyat Akan Mengerti
Kredit Foto: Antara/Didik Suhartono
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak khawatir terhadap potensi lonjakan harga bensin yang membebani masyarakat Amerika akibat perang dan ketegangan terbaru dengan Iran.
Pernyataan itu muncul saat harga minyak dunia sempat melonjak setelah media pemerintah Iran melaporkan penghentian negosiasi dengan AS serta langkah pengetatan kontrol di Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.
Baca Juga: 'Kami Sudah Tak Peduli,' Amerika Beri Lampu Merah Soal Negosiasi dengan Iran
Meski kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya energi bagi masyarakat Amerika, Trump justru menilai dampaknya tidak akan menjadi masalah besar.
"Saya pikir harga minyak akan turun seperti batu dalam waktu dekat," kata Trump kepada CNBC, dikutip Selasa (2/6/2026).
Trump bahkan menegaskan masyarakat AS akan memahami apabila harga bensin naik sementara waktu selama konflik berlangsung.
Menurutnya, publik akan bersedia menanggung biaya tambahan apabila memahami bahwa tujuan utama kebijakan AS adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
"Begitu Anda menjelaskan bahwa ini semua tentang Iran memiliki senjata nuklir, orang-orang akan bersedia membayar sedikit lebih mahal," ujarnya.
Komentar tersebut muncul ketika banyak analis memperingatkan bahwa gangguan pelayaran di Selat Hormuz dapat mengerek harga minyak global dan berdampak langsung pada harga bahan bakar di Amerika Serikat.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur transit bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Setiap ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak pasar energi internasional.
Meski demikian, Trump tetap optimistis tekanan harga tidak akan berlangsung lama. Ia berulang kali menegaskan Amerika memiliki produksi energi domestik yang besar sehingga mampu menghadapi gejolak pasokan global.
Baca Juga: Kekalahan Amerika Serikat di Timur Tengah Sudah Jelas di Mata Dunia, Begini Kata Jenderal Iran
Sikap Trump itu sekaligus menunjukkan bahwa Gedung Putih lebih memprioritaskan tekanan terhadap Iran dibanding kekhawatiran jangka pendek terkait kenaikan biaya hidup yang mungkin dirasakan masyarakat Amerika.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: