Kredit Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan dunia saat ini menghadapi triple planetary crisis: krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menentukan masa depan lingkungan dunia. Hal ini karena Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang luas, kekayaan biodiversitas tinggi, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Sehingga jika Indonesia berhasil menjaga hutan hingga lautnya, maka akan memberikan kontribusi signifikan bagi keberlanjutan lingkungan global.
“Kalau Indonesia berhasil menjaga hutannya, melindungi gambut dan mangrove, mengelola sampah, menjaga sungai, melindungi laut, dan membangun ekonomi sirkular, maka Indonesia bukan hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi masa depan bumi,” ujar Menteri Jumhur.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, pemerintah menargetkan 100 persen sampah terkelola pada tahun 2029 melalui penguatan ekonomi sirkular dan tata kelola material yang lebih modern.
Berbagai inovasi terus didorong, mulai dari Refuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), teknologi pirolisis, hingga pendekatan pengelolaan sampah modern lainnya. Tujuannya adalah mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya