- Home
- /
- Government
- /
- Government
Modal Di Bawah Rp5 Miliar, Kementan Gagas Program DASI Untuk Pasok Susu Makan Bergizi Gratis
Kredit Foto: Istimewa
Kementerian Pertanian tengah menyiapkan program Dapur Susu Indonesia (DASI) sebagai langkah memperkuat ekosistem industri susu nasional. Program ini sekaligus ditujukan untuk mendukung pemenuhan pasokan susu bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Model pengolahan susu skala kecil tersebut nantinya akan mendorong penyebaran peternakan sapi perah di berbagai wilayah Indonesia. Pihak kementerian mengklaim telah berhasil merampungkan prototipe dari fasilitas pengolahan ini.
"Dapur Susu Indonesia, ini yang kita ingin dorong. Kami sudah buat prototipenya. Dengan modal mungkin di bawah Rp5 miliar itu sudah bisa membuat satu unit dapur susu begitu yang kemudian bisa menyuplai sekitar 5 sampai 10 SPPG di sekitarnya," ungkap Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa 2 Juni 2026.
Kehadiran DASI diproyeksikan mampu memicu sebaran peternakan sapi perah agar tidak lagi terpusat di wilayah tertentu. Setiap wilayah yang memiliki basis populasi sekitar 100 hingga 200 ekor sapi perah dapat mendirikan fasilitas pengolahan mandiri.
"Nah, dengan adanya offtake dengan bangunan model pengolahan yang kecil-kecil, maka kemudian sapi-sapi perahnya akan menyebar. Misalnya basisnya 100, 200 ekor di setiap wilayah, maka kemudian dia bangun DASI tadi. Nah, itulah langsung disuplai ke SPPG," lanjut Makmun.
Pemerintah turut mendorong para peternak sapi perah di seluruh penjuru negeri untuk melipatgandakan volume produksi harian mereka. Sebagai bentuk insentif, pemerintah memberikan jaminan penyerapan hasil produksi melalui skema pengadaan resmi.
"Kita berharap semua para peternak ini berlomba nih untuk beternak sapi perah. Apa jaminannya? Jaminannya di-offtake oleh BGN," kata Makmun menegaskan kepastian pasar tersebut.
Langkah intervensi ini diambil untuk memutus persoalan klasik berupa ketidakpastian pasar bagi para pelaku usaha peternakan. Kehadiran program nasional MBG dengan kebutuhan pasokan yang masif dan berkelanjutan dinilai menjadi solusi konkret atas hambatan industri tersebut.
"Karena kan menjadi menu yang wajib ya, kalau kami lihat di pedoman itu minimal dua kali dalam sepekan itu meminum susu. Nah, susu apa yang diakomodasi? Itu kan tidak hanya UHT, artinya kan bisa pasteurisasi, bisa susu sterilisasi. Kalau pasteurisasi dan sterilisasi, saya kira dengan modalnya koperasi, ini bisa dibuat," papar Makmun.
Baca Juga: Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang
Pemerintah juga menggarisbawahi pentingnya pemerataan sentra produksi susu di luar kawasan Pulau Jawa. Wilayah potensial seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Indonesia Timur akan diakomodasi dengan pola peternakan adaptif.
"Di luar Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, kemudian di Sulawesi, kemudian Bali, Nusa Tenggara, sampai kemudian di ke Indonesia Timur. Dengan pola peternakan yang tidak selalu mengandalkan dataran tinggi, maka kita berharap semua para peternak ini berlomba nih untuk beternak sapi perah," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: