Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang

Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini tengah mengelola program pemenuhan gizi berskala masif di seluruh Indonesia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jutaan penerima manfaat kini bergantung pada pasokan nutrisi yang didistribusikan melalui puluhan ribu satuan pelayanan di berbagai daerah.

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, membeberkan besarnya skala operasional yang sedang dijalankan lembaganya.

"Saat ini, Bapak Ibu sekalian rekan-rekan wartawan, ada 29.670 SPPG atau dapur yang sudah beroperasi," jelas Gunalan saat paparan kepada media di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan, Selasa (2/6/2026).

Program ini menyasar kelompok rentan untuk memastikan mereka mendapatkan asupan protein yang memadai secara rutin. Melalui Surat Edaran (SE) Nomor 10 Tahun 2026, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan memberikan susu sebanyak dua kali dalam seminggu.

"Kemudian ada 63.013.000 lebih penerima manfaat, yang mana dari data tersebut ada beberapa surat edaran yang telah dikeluarkan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, baik juknis maupun surat edaran terakhir Nomor 10 Tahun 2026, di mana setiap SPPG itu diwajibkan memberikan minuman atau susu ini dua kali dalam seminggu," urai Gunalan.

Tingginya kebutuhan pemberian minuman bernutrisi tersebut ternyata menghadirkan tantangan operasional tersendiri di lapangan. Ketersediaan susu segar di pasar lokal kerap tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan yang terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah.

Gunalan mengakui kondisi tersebut sempat membuat para pengelola dapur gizi kesulitan memperoleh pasokan susu.

"Sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini kami juga agak kewalahan. Rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur, apabila tidak mendapatkan susu di pasar, biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya," terangnya.

Karena itu, BGN mendorong sektor peternakan lokal untuk terus meningkatkan kapasitas produksi hariannya. Pemberdayaan koperasi peternak sapi perah diyakini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kesenjangan pasokan yang masih terjadi.

Sebelumnya, Kepala BGN, Dadan Hindayana, menanggapi surat terbuka dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyoroti pemberian susu formula dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dadan menegaskan bahwa BGN tidak membuka opsi pemberian susu formula bayi karena mengutamakan pemenuhan Air Susu Ibu (ASI).

Baca Juga: Cegah Monopoli, BGN Ancam Suspend Dapur MBG yang Tak Punya 15 Pemasok Lokal

Baca Juga: Ramai Isu MBG Bagikan Susu Formula Bayi, Pemerintah Langsung Revisi Pedoman

Baca Juga: BGN Tegaskan Tidak Buka Opsi Susu Formula Bayi dalam Program Makan Bergizi Gratis

"BGN tidak membuka opsi susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI. Jadi mohon dicermati dengan lebih saksama," ujar Dadan pada Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa BGN hanya membuka opsi pemberian susu Formula Lanjutan dan Formula Pertumbuhan dalam program tersebut.

Pemberian kedua jenis susu formula itu pun harus disesuaikan dengan kebutuhan serta berdasarkan rekomendasi ahli gizi SPPG. Apabila tenaga ahli gizi tidak tersedia, rekomendasi minimal harus berasal dari bidan atau puskesmas setempat apabila produksi ASI dinilai tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan anak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri