Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rudal hingga Drone Berjatuhan, Iran Serang Markas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain

        Rudal hingga Drone Berjatuhan, Iran Serang Markas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meredup setelah kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan militer baru di kawasan Teluk Persia.

        Eskalasi terbaru terjadi di tengah mandeknya proses negosiasi yang selama berbulan-bulan digadang-gadang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai jalan keluar untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2026.

        Baca Juga: Amerika Curiga Ada Mata-Mata di Timnas Iran, Bakal Diawasi Ketat di Piala Dunia 2026

        Dikutip Rabu (3/6), Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sejumlah rudal balistik Iran yang mengarah ke Bahrain, Kuwait, dan target lain di kawasan berhasil digagalkan atau gagal mencapai sasaran.

        Menurut CENTCOM, dua rudal yang ditembakkan ke Kuwait jatuh sebelum mencapai target atau hancur saat terbang. Tiga rudal lainnya yang mengarah ke Bahrain juga berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

        Selain serangan rudal, militer AS mengklaim berhasil menembak jatuh sejumlah drone Iran yang mengincar kapal sipil di perairan Teluk serta fasilitas militer Amerika di Kuwait.

        Sebagai respons, pasukan Amerika dilaporkan melancarkan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di dekat Selat Hormuz setelah adanya upaya serangan dari pihak Iran.

        Di sisi lain, media pemerintah Iran menyebut Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain serta sejumlah fasilitas militer lain di kawasan menggunakan rudal dan drone.

        Iran menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Amerika terhadap menara komunikasi di selatan Pulau Qeshm.

        Meski kedua negara sebelumnya mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan perang, hingga kini belum ada dokumen resmi yang ditandatangani kedua pihak.

        Kondisi itu membuat gencatan senjata yang berlaku selama beberapa bulan terakhir semakin rapuh. Media Iran bahkan melaporkan komunikasi antara Teheran dan Washington sempat terhenti selama beberapa hari terakhir, memunculkan spekulasi bahwa proses diplomasi mengalami kebuntuan.

        Namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membantah pembicaraan telah berhenti. Menurut Trump, komunikasi antara kedua negara tetap berlangsung hampir setiap hari meski belum menghasilkan terobosan yang signifikan.

        Sejak pertengahan Maret, Trump berulang kali mengklaim kesepakatan besar dengan Iran sudah sangat dekat. Salah satu isu utama yang masih menjadi penghambat adalah program nuklir Iran.

        Washington menuntut Teheran menghentikan aktivitas nuklirnya sebagai syarat pencabutan sanksi. Sebaliknya, Iran meminta akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyak, pelonggaran pembatasan ekspor energi, pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta pengakuan atas kepentingannya di Selat Hormuz.

        Ketegangan yang kembali meningkat langsung berdampak ke pasar energi global. Harga minyak dunia naik lebih dari satu persen pada perdagangan awal Rabu setelah kabar serangan terbaru muncul.

        Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia juga masih belum sepenuhnya pulih akibat konflik yang berkepanjangan.

        Situasi semakin rumit karena perang Iran-Amerika turut memicu eskalasi konflik di Lebanon. Israel terus melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah meski telah diumumkan gencatan senjata parsial yang dimediasi Amerika Serikat.

        Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta memberikan tekanan besar terhadap perekonomian global melalui lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional.

        Baca Juga: ‘Tanpa Saya, Anda Sudah Dipenjara,’ Netanyahu Diamuk Trump Gegara Rusak Upaya Negosiasi Amerika-Iran

        Dengan serangan baru yang kembali terjadi saat negosiasi belum menghasilkan kesepakatan final, peluang tercapainya perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat kini kembali menghadapi ujian berat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: