Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Belanja Tumbuh Lebih Cepat dari Pendapatan

        APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Belanja Tumbuh Lebih Cepat dari Pendapatan Kredit Foto: Dok. Kemenkeu
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% PDB.

        Berdasarkan data APBN Kita Kementerian Keuangan, pendapatan negara hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6% dari target APBN. Realisasi tersebut tumbuh 19,1% secara tahunan (year on year/yoy).

        Sementara itu, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5% dari pagu APBN, meningkat 34,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

        Kondisi tersebut menyebabkan APBN mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun. Meski demikian, nilainya masih berada jauh di bawah batas maksimal defisit yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 2,53% terhadap PDB.

        Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menilai posisi fiskal saat ini masih dalam kondisi terkendali.

        “Yang paling penting lagi apa, defisitnya jadi 0,7. Memang bulan pertama tahun ini 0,7. Kalau kita pakai cara menghitung yang ramai di luar, ya kira-kira dapatnya sekitar 1,8. Jadi kalau lihat dari situ APBN kita amat aman,” ujar Purbaya.

        Menurut dia, kondisi fiskal yang tetap terjaga ditopang oleh perbaikan penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan dan kepabeanan.

        “Yang jelas bisa kita kendalikan. Utamanya kenapa? Karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan,” katanya.

        Data APBN menunjukkan penerimaan perpajakan hingga Mei 2026 mencapai Rp958,2 triliun atau tumbuh 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau naik 22,1%, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7%.

        Selain itu, APBN juga kembali mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat sekitar Rp28 triliun.

        “Yang penting lagi adalah surplus keseimbangan primernya sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ujar Purbaya.

        Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Surplus pada komponen ini umumnya mencerminkan kemampuan fiskal yang lebih baik dalam membiayai pengeluaran rutin pemerintah.

        Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah pusat hingga Mei 2026 mencapai Rp1.059,3 triliun atau tumbuh 52,6% secara tahunan. Belanja kementerian/lembaga tercatat sebesar Rp517,7 triliun, sedangkan belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp541,6 triliun.

        Baca Juga: Heboh Menkeu Purbaya Bakal Diganti Chatib Basri, Ini Kata Istana

        Baca Juga: Purbaya Tegaskan Merah Putih Bond Bukan Wajib, Ini Penjelasan Lengkapnya

        Adapun transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp306,1 triliun atau tumbuh 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

        Purbaya menegaskan bahwa data fiskal hingga Mei menunjukkan kondisi APBN masih terjaga di tengah berbagai tekanan ekonomi dan pasar keuangan.

        “Dari sini bagus semua, pajaknya naik, defisit terjaga. Jadi kondisi fiskal amat baik,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: