Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%

        Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di level Rp18.058 pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Mata uang Garuda menguat 129 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.187 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan mata uang Garuda dipicu oleh kebijakan Bank Indonesia yang menaikan suku bunga acuan secara mendadak menjadi 5,50%. Kenaikan ini diharapkan dapat mendorong penguatan rupiah.

        "Karena pelemahan mata uang rupiah yang begitu tinggi, ya, di Rp18.200 dan ini pun juga mendapatkan kritikan, ya, intervensi dari berbagai lembaga baik DPR, pemerintah, maupun Presiden terhadap Bank Indonesia. Nah, hari ini Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga 25 basis poin, ya, menjadi 5,50%," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Menurut Ibrahim, momentum kenaikan suku bunga acuan sudah cukup baik mengingat tensi geopolitik mulai sedikit mereda. Hal ini ditandai dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menginginkan agar tidak saling serang antara Israel dan Iran.

        "Ini momentum yang paling bagus dan bagi saya, Bank Indonesia sangat tepat sekali dalam membuat satu kebijakan dengan menaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga ini bertujuan adalah untuk menyetabilkan mata uang rupiah dan inflasi pun juga tetap terjaga," ungkap dia.

        Baca Juga: Alasan BI Tiba-tiba Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen, Rupiah Tertekan dan Dana Asing Keluar

        Baca Juga: Bank Indonesia Tiba-tiba Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%

        Menurut Ibrahim, pekerjaan rumah (PR) saat ini adalah bagaimana pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya tetap mendukung stabilitas rupiah bersama Bank Indonesia. Pemerintah dalam hal ini mesti membuat kepastian fiskal agar mendorong penguatan rupiah.

        "Tetapi, kalau saya lihat bahwa penguatan mata uang rupiah ini hanya bersifat sementara, ya, karena belum ada satu kepastian, ya, tentang fiskal yang kita lihat masih defisit, ya, mendekati 3% dan ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah," kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: