Rupiah Ditutup Menguat Tinggalkan Level Rp18.000, Ini Faktor Pendorongnya
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Mata uang Garuda terparkir di level Rp17.986 atau menguat 82 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.068 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring upaya pemerintab mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.
"Sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang," kata dia kepada wartawan.
Ibrahim menyebut pemerintah akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan.
Di saat sama, Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings.
"S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75%," kata dia.
Baca Juga: Purbaya Sebut Rasio Utang RI Masih Aman, Singgung Rating BBB Outlook Stabil dari S&P
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.071 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan. Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia.
Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, ma,kroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: