Kredit Foto: Istimewa
PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp100 miliar pada 2026 untuk mendukung ekspansi bisnis distribusi farmasi dan alat kesehatan. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas central warehouse baru di Bintara, Bekasi.
Direktur Utama Millennium Pharmacon International Imam Fathorrahman mengatakan gudang baru tersebut akan memiliki kapasitas sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan fasilitas yang saat ini dioperasikan perseroan.
“Nilai belanja obat nasional mencapai lebih dari Rp160 triliun per tahun, dan kebutuhan terhadap layanan distribusi farmasi serta alat kesehatan yang profesional akan terus meningkat. Target kami adalah meraih pertumbuhan kinerja double digit bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Imam.
Menurut manajemen, pembangunan gudang baru sepenuhnya dibiayai dari kas internal perusahaan. Fasilitas tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas distribusi sekaligus mendukung pengembangan portofolio bisnis di luar produk farmasi resep (ethical product).
Gudang yang saat ini telah menyelesaikan seluruh proses perizinan dan sertifikasi tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh pada semester II-2026.
Selain meningkatkan kapasitas penyimpanan, fasilitas baru itu akan dilengkapi sistem digitalisasi, otomasi, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan sistem pelacakan distribusi.
Perseroan menilai keberadaan gudang baru akan menjadi fondasi bagi pengembangan bisnis alat kesehatan dan produk kesehatan konsumen yang menjadi salah satu fokus pertumbuhan perusahaan ke depan.
Di tengah persaingan industri distribusi farmasi yang semakin ketat, manajemen juga memperkuat tata kelola operasional melalui sertifikasi ISO guna meningkatkan efisiensi rantai pasok dan utilisasi fasilitas distribusi.
Direktur Millennium Pharmacon International Mohamad Fazly Bin Hassan mengatakan perusahaan menargetkan peningkatan efisiensi operasional melalui perbaikan pengelolaan inventori dan sistem perencanaan permintaan.
“Strategi kami adalah memperbesar kontribusi dari segmen lain seperti rumah sakit swasta dan apotek yang masih memiliki potensi pertumbuhan besar. Dengan demikian, ketergantungan terhadap satu segmen dapat berkurang dan bisnis menjadi lebih resilien,” ujar Fazly.
Baca Juga: CBUT Siapkan Pabrik Baru Jelang B50, Laba Kuartal I Naik Jadi Rp45 Miliar
Baca Juga: Midea Resmikan Pabrik Kulkas Terbesar di Indonesia, Perkuat Investasi dan Produksi Lokal
Selain memperluas basis pelanggan, perseroan juga menjalankan strategi diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan terhadap segmen rumah sakit yang memiliki risiko keterlambatan pembayaran.
Melalui program digitalisasi dan optimalisasi rantai pasok, SDPC menargetkan penghematan biaya operasional (operating expense/opex) hingga sekitar 5%.
Perseroan menilai ekspansi kapasitas distribusi dan peningkatan efisiensi menjadi faktor penting untuk menangkap peluang pertumbuhan industri farmasi nasional yang didukung oleh tingginya nilai belanja obat dalam negeri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: