Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat Militer: Perang Iran–AS Cuma Kedok Ekonomi Global

        Pengamat Militer: Perang Iran–AS Cuma Kedok Ekonomi Global Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menyoroti konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak 28 Februari 2026. 

        Menurutnya, perang ini bukan semata persoalan militer, melainkan terkait penguasaan jalur ekonomi strategis, khususnya Selat Hormuz.yang menjadi jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

        Dalam kanal YouTube Refly Harun, Connie menjelaskan bahwa kasus Iran mengingatkan pada tekanan AS terhadap Panama.

        "Coba kita perhatikan kasus Iran. Iran ini kan sebelum Iran ada kejadian Panama. Orang mungkin enggak pay attention, tapi Panama itu terjadi — dia enggak perang — tapi jaksa agungnya merubah sebuah peraturan hanya karena tekanan dari Amerika Serikat, tentang Selat Panama," jelas Guru Besar Saint Petersburg State University (SPbSU) itu, dikutip Jumat (12/6).

        "Nah, kemudian sekarang Iran. Ya kan, bagaimana selat itu, apapun alasannya — kalau saya lihat kan cuma ekonomi. Kemudian penguasaan selat," imbuhnya.

        Ia menambahkan, hal ini sejalan dengan white paper pertahanan AS terbaru tahun 2026 yang menekankan pentingnya menguasai isu ekonomi dan jalur komunikasi laut.

        "Nah, coba kita kaitkan ke buku putih pertahanan Amerika yang paling baru 2026. Dia bilang, 'Dunia ini sekarang yang mesti dikuasai oleh Amerika: isu ekonomi dan isu sea lines of communications.' Which is selat-selat ini kan," tandasnya.

        Baca Juga: 'Hampir Tak Mungkin,' Upaya Donald Trump Akhiri Perang Iran-Amerika Bisa Digagalkan Manuver Israel

        Selat Hormuz kini menjadi titik benturan paling panas antara Iran dan AS. Teheran melalui Komando Khatam Al-Anbiya resmi menutup selat tersebut untuk seluruh kapal tanker dan komersial, dengan ancaman menembak kapal yang melintas tanpa izin. Langkah ekstrem ini diambil sebagai balasan atas serangan udara AS di Provinsi Hormozgan.

        Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah klaim Iran dan menegaskan armadanya akan tetap menjamin jalur perdagangan internasional. Sejak April, AS bahkan melakukan serangan interveksi militer untuk memutar balik kapal yang membawa minyak dari pantai Iran, guna menekan pendapatan ekonomi Teheran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: