Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berpotensi Tembus 6.700, Sucor Nilai Valuasi Saham RI Sudah Murah

        IHSG Berpotensi Tembus 6.700, Sucor Nilai Valuasi Saham RI Sudah Murah Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sucor Sekuritas menilai tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan terakhir lebih disebabkan oleh krisis kepercayaan investor dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi. Di tengah ketidakpastian global, perusahaan sekuritas tersebut bahkan melihat peluang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan menuju level 6.700 dalam beberapa bulan ke depan.

        Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan pelemahan pasar yang terjadi belakangan dipicu berbagai kekhawatiran investor, mulai dari penurunan prospek peringkat Indonesia, potensi perubahan status Indonesia dalam indeks global, hingga ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

        “Tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia saat ini lebih mencerminkan krisis kepercayaan dibandingkan krisis fundamental,” ujarnya dalam acara Stock Idea Series bertajuk Kapan Krisis Berakhir? Membaca Sinyal Pasar Saat Semua Orang Takut, dikutip Senin (15/6/2026).

        Menurut Hendry, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan suku bunga, sementara pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal.

        Di sisi lain, valuasi pasar saham Indonesia saat ini dinilai telah mencerminkan sebagian besar risiko yang selama ini menjadi perhatian investor.

        Sucor mencatat pasar keuangan domestik menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global yang berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

        Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), IHSG ditutup menguat 2,07% ke level 6.007,62. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,61% menjadi Rp17.865 per dolar AS setelah mendapat dukungan dari langkah stabilisasi Bank Indonesia.

        Baca Juga: IHSG Terbang Hingga Rupiah Menguat Jadi Bukti Kepercayaan Investor, Rosan: Itu Real!

        Baca Juga: IHSG Melejit 4,12%, Damai AS-Iran Bikin Saham Bank dan Komoditas Terbang

        Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas Reyhan Pratama menilai penguatan tersebut membuka peluang bagi IHSG untuk melanjutkan reli dalam beberapa bulan mendatang.

        “Area 6.000 saat ini menjadi resistance psikologis yang penting untuk diperhatikan investor. Sementara itu, area support kuat IHSG berada di sekitar level 5.512. Selama support tersebut masih terjaga, peluang penguatan lanjutan masih cukup terbuka,” kata Reyhan.

        Ia memperkirakan IHSG berpotensi bergerak menuju area 6.700 apabila mampu mempertahankan level support tersebut.

        Meski demikian, Reyhan mengingatkan pasar tetap berpotensi mengalami koreksi jangka pendek setelah reli yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, koreksi tersebut merupakan bagian dari proses konsolidasi yang sehat.

        Dari sisi sektoral, Reyhan menilai saham-saham komoditas masih menarik untuk dicermati di tengah dinamika global saat ini. Sebaliknya, investor perlu lebih selektif terhadap sektor perbankan mengingat sejumlah saham bank besar telah mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

        Baca Juga: Saham Himbara Bawa IHSG Terbang, Danantara: Bukti BUMN Sedang di Puncak Performa

        Baca Juga: IHSG Dibuka Melesat 2,84 Persen, 469 Saham Berada di Zona Hijau

        Hendry menambahkan investor perlu mencermati sejumlah indikator utama untuk mengukur keberlanjutan pemulihan pasar, antara lain stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), arus dana asing, serta kemampuan IHSG bertahan dari sentimen negatif tanpa mencetak level terendah baru.

        Menurutnya, kombinasi indikator tersebut secara historis sering menjadi sinyal awal dimulainya fase pemulihan pasar yang lebih berkelanjutan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: