Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menperin: Industrialisasi Jadi Kunci Prabowo Wujudkan Kemandirian Ekonomi

Menperin: Industrialisasi Jadi Kunci Prabowo Wujudkan Kemandirian Ekonomi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menilai penguatan sektor industri menjadi salah satu kunci yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi.

Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi dan investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya angka. Keduanya harus mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

"Pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat," kata Agus di Jakarta, Jumat (14/8).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Prabowo menekankan pentingnya memperkuat kemampuan Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri di tengah ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang hingga gangguan rantai pasok.

Agus mengatakan kondisi tersebut membuat pembangunan industri nasional semakin penting. Industri yang kuat dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus memperkuat rantai pasok domestik, penguasaan teknologi, serta produksi barang bernilai tambah tinggi.

"Indonesia harus mampu mengolah sumber daya yang kita miliki menjadi produk industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri," ujarnya.

Industri Tumbuh di Atas Ekonomi Nasional

Agus menyebut kinerja manufaktur menjadi salah satu indikator bahwa sektor industri masih memiliki peran besar dalam perekonomian nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional yang tumbuh 5,29 persen pada periode yang sama.

Industri pengolahan juga menyumbang 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sekaligus menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian. Sektor ini memberikan andil 0,90 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Agus menilai capaian tersebut menjadi modal untuk terus memperbesar peran manufaktur sebagai penggerak ekonomi.

"Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.

Pemerintah kemudian menerjemahkan agenda tersebut melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi ini mencakup penguatan struktur industri, percepatan hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar hingga penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Hilirisasi Tak Boleh Berhenti di Produk Antara

Agus juga menyoroti agenda hilirisasi yang menjadi salah satu bagian penting dari strategi industrialisasi pemerintah.

Sejumlah proyek yang didorong pemerintah mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pengolahan alumina menjadi aluminium.

Namun, menurut Agus, proses tersebut tidak seharusnya berhenti pada pengolahan komoditas menjadi produk antara. Rantai produksi harus terus diperpanjang agar nilai tambah yang dihasilkan semakin banyak bertahan di Indonesia.

"Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja yang dapat kita ciptakan," ujarnya.

Ia mengatakan investasi yang masuk ke Indonesia juga perlu memberikan dampak lebih luas. Bukan hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, pengembangan sumber daya manusia, penggunaan produk dalam negeri dan keterlibatan industri lokal dalam rantai pasok.

Dengan demikian, investasi tidak berdiri sendiri sebagai sebuah proyek, melainkan terhubung dengan ekosistem industri nasional.

Pasar Dalam Negeri Jadi Modal

Selain membangun kapasitas produksi, pemerintah juga melihat pasar domestik sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan industri nasional.

Indonesia memiliki basis konsumen yang besar. Namun, meningkatnya konsumsi masyarakat juga perlu diimbangi dengan kemampuan industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Data yang dikutip Kemenperin menunjukkan impor barang konsumsi meningkat 27,15 persen secara tahunan. Kondisi ini mencerminkan kuatnya permintaan domestik, tetapi sekaligus menunjukkan masih adanya ruang bagi industri nasional untuk menggantikan produk impor.

"Jangan sampai peningkatan konsumsi masyarakat justru lebih banyak dinikmati oleh produk impor," kata Agus.

Karena itu, penguatan industri dalam negeri perlu dilakukan bersamaan dengan upaya memperbesar produksi nasional, termasuk memperkuat industri bahan baku dan komponen.

Di sisi lain, pemerintah juga ingin manufaktur Indonesia semakin kompetitif di pasar ekspor. Apalagi pada kuartal II-2026, net ekspor masih memberikan kontribusi negatif 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bidik Rantai Pasok Global

Agus mengatakan Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi produk global. Industri nasional juga harus diarahkan menjadi bagian dari rantai pasok dunia.

Pemerintah melihat perjanjian perdagangan yang telah diterapkan sebagai salah satu pintu untuk memperluas pasar produk manufaktur Indonesia. Saat ini terdapat 25 perjanjian perdagangan yang telah diimplementasikan.

Menurut Agus, akses tersebut harus dimanfaatkan untuk mendorong ekspor produk bernilai tambah, bukan sekadar meningkatkan perdagangan komoditas mentah.

Baca Juga: Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun di Semester I-2026

Baca Juga: Daur Ulang Botol PET Capai 71 Persen, Kemenperin Dorong Ekonomi Sirkular di Industri Minuman

"Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, transformasi teknologi, riset dan inovasi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting. Investasi yang masuk juga diharapkan membawa transfer teknologi dan melibatkan industri domestik.

Kemenperin menyatakan agenda industrialisasi ke depan akan terus diarahkan pada penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kualitas SDM serta perluasan pasar domestik dan ekspor.

Bagi Agus, industrialisasi pada akhirnya bukan sekadar membangun lebih banyak pabrik. Lebih dari itu, industrialisasi harus mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan penguasaan teknologi dan memastikan sumber daya Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra