Trump Marah Besar ke Netanyahu: Tanpa Saya, Israel Sudah Lama Hancur!
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan. Di tengah memanasnya situasi Timur Tengah dan upaya diplomasi yang sedang berlangsung, Trump melontarkan pernyataan keras yang menunjukkan ketegangan terbuka dengan pemimpin Israel tersebut.
Dalam pernyataannya di sela-sela KTT G7 bersama Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Trump bahkan mengklaim bahwa keberlangsungan Israel saat ini tidak lepas dari peran dirinya dan Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul setelah ia mengkritik langkah militer Israel yang dinilai berpotensi mengganggu upaya perdamaian di kawasan.
"Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," kata Trump.
Ia melanjutkan dengan klaim yang lebih tegas. "Israel pasti sudah hancur sejak lama jika saya tidak ikut campur."
Pernyataan tersebut menambah daftar panjang ketidaksepakatan publik antara Trump dan Netanyahu yang belakangan semakin terlihat. Meski mengaku masih memiliki hubungan baik dengan Netanyahu, Trump meminta pemimpin Israel itu menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab, khususnya terkait operasi militer di Lebanon.
Baca Juga: Trump Sebut Netanyahu 'Orang Sangat Sulit', Hampir Gagalkan Kesepakatan Damai AS-Iran!
"Saya memiliki hubungan yang baik, tetapi sekarang harus lebih bertanggung jawab terhadap Lebanon," ujar Trump.
Ia bahkan mengenang Lebanon sebagai negara yang pernah menjadi pusat intelektual di kawasan Timur Tengah.
"Lebanon dulunya adalah negara yang hebat. Itu adalah negara tempat terdapat profesor, dokter, pengacara. Kecerdasan luar biasa ada di Lebanon. Sekarang negara itu sungguh mengerikan."
Ketegangan ini semakin mencuat setelah muncul laporan bahwa Trump marah besar kepada Netanyahu menyusul serangan Israel ke Beirut yang terjadi menjelang rencana kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut ditujukan untuk menghantam target milik Hizbullah di ibu kota Lebanon. Namun, Trump mengaku terkejut ketika mendapat laporan dari para penasihatnya karena sebelumnya kedua pihak disebut telah sepakat untuk menahan diri dari aksi saling menyerang.
"Ini sangat buruk - saya tidak percaya. Satu jam sebelum kita seharusnya menandatangani kesepakatan," katanya kepada Axios.
Trump juga secara terbuka mempertanyakan keputusan Netanyahu yang menurutnya justru memperumit situasi diplomatik yang sedang dibangun.
"Kenapa harus melakukan serangan sialan itu? Aku sangat marah. Aku sudah memberitahunya. Dia tidak punya akal sehat sama sekali. Aku sudah memberitahunya itu," katanya kepada Axios.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat harus disertai langkah nyata dari Israel.
Menurut Araghchi, perang belum benar-benar berakhir selama pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon yang diduduki selama konflik berlangsung.
Baca Juga: 'Kami Bukan Pihak dalam Perjanjian Ini', Israel Tolak Mentah-mentah Kesepakatan Damai AS-Iran
"Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir," kata Araghchi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: