Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Toyota Khawatir Transisi Mobil Listrik Ancam Lapangan Kerja

        Toyota Khawatir Transisi Mobil Listrik Ancam Lapangan Kerja Kredit Foto: Toyota Indonesia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Dewan Direksi Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda, kembali menegaskan alasan di balik sikap perusahaan yang tidak terburu-buru beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik. Menurutnya, transisi total menuju mobil listrik berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap tenaga kerja dan rantai pasok industri otomotif yang selama ini bergantung pada teknologi mesin pembakaran internal.

        Di tengah tren global yang semakin agresif mendorong elektrifikasi kendaraan, Toyota justru memilih pendekatan berbeda. Pabrikan asal Jepang tersebut tetap mengembangkan mobil listrik, tetapi pada saat yang sama mempertahankan investasi di teknologi hybrid, hidrogen, fuel cell, hingga mesin pembakaran berbahan bakar hidrogen.

        Bagi Toyoda, persoalan kendaraan listrik bukan semata soal teknologi atau target emisi karbon, tetapi juga menyangkut keberlangsungan jutaan pekerja dan pelaku industri pendukung yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari ekosistem otomotif.

        "Empat atau tiga tahun lalu, saya satu-satunya yang mengatakan kepada media bahwa saya menyukai aroma, menyukai suara, dan menyukai mesin. Saya ingin mempertahankan lapangan kerja bagi pemasok mesin," ujar Toyoda seperti dikutip dari Carscoops.

        Menurut dia, peralihan yang terlalu cepat menuju kendaraan listrik dapat membuat banyak perusahaan pemasok komponen mesin kehilangan pasar. Padahal, industri otomotif konvensional selama ini melibatkan jaringan pemasok yang sangat luas, mulai dari produsen mesin, transmisi, sistem bahan bakar, hingga komponen pendukung lainnya.

        Baca Juga: Murah Banget! Pengeluaran Bulanan Mobil Listrik Hanya Rp 217 Ribu

        Toyoda mengaku kerap berada dalam posisi yang berbeda dibanding banyak pelaku industri otomotif global yang memilih fokus penuh pada kendaraan listrik.

        "Saya merasa sangat sendirian," katanya.

        Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Toyota terus mempertahankan strategi multi-pathway atau pengembangan berbagai teknologi kendaraan rendah emisi secara bersamaan. Perusahaan meyakini setiap negara memiliki kebutuhan dan kesiapan yang berbeda dalam menjalani transisi menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

        Selain mempertahankan lini hybrid yang menjadi andalannya, Toyota juga terus mengembangkan kendaraan berbahan bakar hidrogen dan fuel cell sebagai alternatif pengurangan emisi karbon.

        Di sisi lain, Toyota belum menunjukkan tanda-tanda meninggalkan mobil performa tinggi. Bahkan, sejumlah laporan menyebut perusahaan tengah menyiapkan generasi terbaru GR Yaris berteknologi hybrid serta beberapa model sport baru seperti MR2, Celica, dan GR GT.

        Toyoda juga mengakui dirinya memiliki kekhawatiran apabila masa depan industri otomotif hanya didominasi oleh kendaraan listrik.

        Baca Juga: Semua Akan Listrik Pada Waktunya, Bos Toyota Akio Toyoda: 'Saya Merasa Kesepian'

        "Semua orang beralih ke kendaraan listrik, itulah ketakutan terbesar saya," tuturnya.

        Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Toyota masih memandang masa depan industri otomotif akan diisi oleh beragam teknologi, bukan hanya kendaraan listrik berbasis baterai. Di tengah percepatan elektrifikasi global, perusahaan memilih menjaga keseimbangan antara target pengurangan emisi, kebutuhan konsumen, dan keberlangsungan ekosistem industri yang telah dibangun selama puluhan tahun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: