AI Jadi Andalan RI Keluar dari Middle-Income Trap, Luhut Siapkan Brain Factory
Kredit Foto: Youtube
Pemerintah tengah menyiapkan program pengembangan talenta di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam pengembangan teknologi masa depan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan DEN sedang menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) guna mendorong perguruan tinggi memiliki spesialisasi riset yang lebih terarah.
Menurutnya, setiap kampus perlu memiliki fokus pengembangan keilmuan yang berbeda agar sumber daya riset tidak terpecah dan mampu menghasilkan inovasi yang lebih kompetitif di tingkat global.
"Saya bilang kepada Menteri Dikti, pilih saja sejumlah universitas untuk dikembangkan menjadi world class universitydengan fokus riset masing-masing. Misalnya, UGM fokus pada bidang apa, ITB atau UI fokus pada bidang apa, dan seterusnya," ujar Luhut dalam Indonesia Ethical AI Summit, dikutip dari siaran langsung YouTube, Rabu (17/6/2026).
Selain memperkuat kapasitas perguruan tinggi, Luhut mengungkapkan pemerintah juga tengah menyiapkan program brain factory, yaitu wadah pembinaan bagi generasi muda dengan kemampuan intelektual unggul.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta berbakat yang perlu mendapatkan pembinaan secara khusus agar mampu menjadi ilmuwan dan inovator di bidang teknologi strategis.
"Banyak orang pintar di Indonesia. Karena itu saya juga sedang mengembangkan apa yang saya sebut brain factory, yang berisi anak-anak super pintar dengan IQ yang bisa mencapai 160. Saya kumpulkan mereka dan mencari dosen-dosen hebat untuk membimbing," katanya.
Melalui program tersebut, para peserta akan mendapatkan pendampingan langsung dari akademisi dan peneliti terbaik guna mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk AI.
Luhut menilai Indonesia perlu menerapkan pendekatan yang lebih agresif dalam menyiapkan talenta teknologi. Salah satunya melalui program percepatan pendidikan (fast track) bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Ia mencontohkan strategi yang diterapkan sejumlah perguruan tinggi di China dalam membina talenta teknologi sejak usia muda. Menurutnya, pendekatan tersebut berhasil menciptakan pasokan peneliti dan ilmuwan yang mendukung perkembangan industri teknologi negara tersebut.
"Saya lihat di Anhui University of Science and Technology China, anak-anak sejak usia 12 tahun sudah dikelompokkan dan disiapkan menjadi kader teknologi masa depan. Di China, mereka menghapus ratusan bidang studi dan memfokuskan diri pada AI serta bidang genom," ujarnya.
Lebih lanjut, Luhut menilai pengembangan talenta AI menjadi salah satu langkah penting agar Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2040.
Menurutnya, AI berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang dapat membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
"Bonus demografi yang akan kita nikmati pada 2040 harus benar-benar bisa dimanfaatkan. Saya pikir, dari semua hal yang dapat mendorong kita ke sana, salah satunya adalah AI," tutur Luhut.
Melalui penguatan riset perguruan tinggi dan pengembangan talenta unggulan melalui program brain factory, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berperan sebagai pengembang inovasi AI di tingkat global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: