Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amran Larang Tanam Komoditas yang Tak Sesuai Daerah dalam Proyek Perkebunan Jumbo Rp10 Triliun

        Amran Larang Tanam Komoditas yang Tak Sesuai Daerah dalam Proyek Perkebunan Jumbo Rp10 Triliun Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah mengedepankan efisiensi anggaran dalam pelaksanaan program pembibitan perkebunan nasional yang menargetkan pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare di seluruh Indonesia.

        Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan komoditas perkebunan akan disesuaikan dengan keunggulan komparatif masing-masing daerah, termasuk kondisi agroklimat, budaya, dan pengalaman masyarakat dalam membudidayakan tanaman tertentu.

        Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan program sekaligus menekan biaya distribusi bibit antardaerah.

        "Program ini dibangun berdasarkan keunggulan komparatif, kondisi agroklimat setempat, dan budaya masyarakat setempat supaya lebih mudah dijalankan," ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (17/6/2026).

        Ia menegaskan pemerintah tidak akan memaksakan penanaman komoditas yang tidak sesuai dengan karakteristik suatu daerah.

        "Jangan daerah yang tidak terbiasa menanam kelapa diberi kelapa. Jangan daerah yang tidak terbiasa menanam kakao diberi kakao. Daerah yang memang sudah memiliki budaya menanam kakao dan didukung iklim yang sesuai, biarkan mengembangkan komoditas tersebut," katanya.

        Amran menjelaskan sistem pembibitan juga akan dilakukan langsung di wilayah pengembangan komoditas. Dengan skema tersebut, pemerintah tidak perlu mendistribusikan bibit dari satu daerah ke daerah lain yang berpotensi meningkatkan biaya logistik.

        "Cara pembibitannya dilakukan di daerah masing-masing, sehingga tidak perlu diangkut dari Jawa ke Sulawesi Selatan atau dari Sulawesi Selatan ke Papua. Ahlinya yang kita datangkan ke lokasi. Dengan begitu lebih hemat dan efisien," ujarnya.

        Program pembibitan perkebunan nasional tersebut menargetkan pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare dengan fokus pada sejumlah komoditas strategis, seperti kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala, dan lada.

        "Targetnya 870.000 hektare di seluruh Indonesia. Komoditasnya kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala, dan lada. Ini merupakan komoditas strategis dengan permintaan yang tinggi di pasar global," kata Amran.

        Baca Juga: Balas 'Pesta Babi' dengan Kucuran Dana Rp5 Triliun, Mentan Amran Siapkan 'Pesta Panen'

        Baca Juga: Targetkan 870 Ribu Hektare, Kementan Kucurkan Anggaran Rp10 Triliun untuk Megaproyek Pembibitan Nasional

        Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,95 triliun untuk mendukung program tersebut. Menurut Amran, proyek ini merupakan salah satu program pengembangan perkebunan terbesar yang pernah dijalankan pemerintah.

        Ia menargetkan tanaman yang dikembangkan mulai memasuki masa panen dalam waktu sekitar tiga tahun. Namun, manfaat ekonominya diharapkan dapat berlangsung jauh lebih lama mengingat sebagian besar tanaman perkebunan memiliki umur produktif puluhan tahun.

        "Kita kawal bersama karena ini adalah masa depan anak cucu kita. Tanaman seperti kelapa bisa berproduksi selama 30 hingga 60 tahun. Karena itu kualitas pembibitan menjadi sangat penting. Jika salah di tahap pembibitan, dampaknya bisa berlangsung selama puluhan tahun," ujar Amran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: