Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tepis Isu Untung 2 Triliun, Mentan Amran Tegaskan Kasus Beras Adalah Kejahatan Penipuan

Tepis Isu Untung 2 Triliun, Mentan Amran Tegaskan Kasus Beras Adalah Kejahatan Penipuan Kredit Foto: Dokumentasi Kementerian Pertanian
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) secara tegas meluruskan polemik di media sosial mengenai temuan angka keuntungan korporasi beras yang mencapai Rp2 triliun per bulan. Pemerintah menegaskan bahwa angka fantastis tersebut bukanlah keuntungan bisnis murni, melainkan hasil dari tindak manipulasi mutu komoditas.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, meminta seluruh elemen publik dan pengamat untuk menggeser fokus perhatian dari sekadar angka hitungan ekonomi menuju esensi utama, yakni pemberantasan mafia dan tindak kejahatan pangan.

"Jangan melakukan pengalihan isu dari penipuan, perampokan menjadi isu pabrik satu, satu apa namanya, satu penggilingan Rp 2 triliun. Itu jangan digeser ke sana," jelas Amran dalam jumpa pers di kantor Kementan, Kamis (30/7/2026).

Amran melaporkan, berdasarkan temuan penyidik, sindikat korporasi nakal tersebut mendulang perputaran uang miliaran rupiah dengan cara membohongi konsumen terkait spesifikasi kualitas beras yang dijual ke pasaran. Dia menyebutkan akal-akalan dari sindikat korporasi ini bermain pada standar penjualan yakni kualifikasi beras patahan di atas maksimal 14,5 %. Sedangkan sejumlah beras premium di pasaran, ditemukan kualifikasi beras patahan berada di angka 33-59%.

“Saya contohkan nih, dia menjual emas mengatakan 24 karat padahal 18 karat. Itu namanya apa? Penipuan ya? Anda juga sepakat mengatakan penipuan. Jadi sampaikan wartawan yang sampaikan bahwa ini penipuan. Nih, saya juga sepakat. Penipuan ini harusnya Rp 8.000/kg harganya, standar ya, tetapi dijual Rp 17.000/kg. Ini pembuktiannya,” jelas Amran.

Lebih lanjut, Amran menegaskan, tidak menoleransi segala bentuk pengelabuan yang berkedok margin bisnis wajar, terutama yang mengeksploitasi hasil produksi petani dengan menggunakan skema pemalsuan kemasan di berbagai wilayah sentra produksi.

“Nah, total kerugian Rp 98 triliun kita hitung detail itu 99 kurang lebih Rp 100 triliun. Di dalamnya Rp 2 triliun satu perusahaan korporasi, itu ada di dalamnya. Rp 2 triliun per bulan berarti Rp 22 triliun per kita hitung kemarin Rp 2,08 triliun per satu perusahaan itu. Tentu tidak semuanya sama, tapi ada satu perusahaan seperti itu,” ungkap dia.

Diketahui sebelumnya, Sektor pertanian tercatat menyumbang Rp1.900 triliun ke perekonomian nasional dan berpotensi mendorong perputaran ekonomi Indonesia hingga mencapai Rp100.000 triliun jika dikombinasikan dengan hilirisasi dan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam Rakornas Kadin 2025 yang menyoroti pentingnya pertanian sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Amran Siapkan Bibit Gratis dan Pengolahan Lahan bagi Pesantren

Baca Juga: Harga Ayam-Telur Merangkak Naik, Mentan Amran Blak-blakan Singgung Efek MBG

Menurut Amran, perputaran dana sebesar Rp1.900 triliun di sektor pertanian mampu menggerakkan sektor lain, seperti perdagangan, industri, dan UMKM, sehingga menghasilkan multiplier effect mencapai Rp57.000 triliun. Dengan penguatan hilirisasi komoditas, nilai tambah bisa dilipatgandakan hingga mendorong perekonomian ke level Rp100.000 triliun.

“Pertanian ini punya dua kekuatan besar, dan yang paling sustain adalah pertanian serta sumber daya alam kita. Kalau ini didorong dengan UMKM, maka Indonesia bisa menjadi negara super power,” ujar Amran, Rabu (20/8/2025).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra