PDIP vs PSI Memanas: Sindiran 'Kutu Loncat' Picu Adu Tuding Soal Pembajakan Kader
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketegangan antara PDIP dan PSI kembali memanas setelah pernyataan saling sindir terkait isu dugaan pembajakan kader dan hak politik perpindahan partai.
Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Sitorus merespons keras pernyataan elite PSI Bestari Barus yang sebelumnya menyinggung PDIP dalam polemik tersebut.
Deddy menolak anggapan bahwa dirinya perlu diberi pemahaman oleh PSI dan justru mempertanyakan kapasitas lawan bicaranya.
“Yang gagal paham dia, kenapa saya yang dikasih paham? Saya tak merasa ada pemahaman apapun yang bisa ditambahkan Bestari atau PSI ke saya,” kata Deddy kepada wartawan, Jumat (19/6/2026).
Pernyataan itu kemudian berlanjut dengan sindiran yang lebih tajam ketika Deddy menyinggung latar belakang politik Bestari.
“Apa Bestari mau ngajari saya bagaimana caranya jadi kutu loncat atau maju tak gentar membela yang bayar?” kata Deddy Sitorus.
Di sisi lain, PSI melalui Bestari Barus menegaskan bahwa perpindahan kader antarpartai merupakan hak pribadi yang tidak bisa dipolitisasi sebagai pembajakan.
Bestari menyebut status keanggotaan politik seseorang adalah keputusan individual yang dijamin secara demokratis.
“Ini, catat baik-baik ya, bahwa berada atau tidak berada di dalam satu partai politik yang mana pun itu, itu murni hak privat,” kata Bestari setelah bertemu Jokowi di Solo, Kamis (18/6/2026).
Ia juga menyinggung bahwa PDIP sebagai partai besar seharusnya sudah memahami prinsip tersebut tanpa perlu memperpanjang polemik.
Bestari bahkan menantang balik pihak PDIP yang masih keberatan untuk berdiskusi langsung dengannya.
“Tolong disampaikan, kalau misalnya memang ingin jauh lebih paham, ya kader PDIP yang ngomong itu suruh ketemu saya ya, biar saya kasih paham,” tegas Bestari.
Sebelumnya, Deddy Sitorus menuding adanya upaya menarik kader PDIP ke PSI di sejumlah daerah, termasuk dugaan iming-iming bantuan material.
Baca Juga: PDIP Balik Serang PKB, Deddy Sitorus Pertanyakan Pemahaman Politik Jazilul Fawaid
“Menurut info yang saya dengar, bahkan rata-rata ditawari bantuan material yang lumayan. Tidak tahu kebenarannya. Terus terang kami tidak takut,” ujar Deddy.
Pernyataan itu menjadi titik awal memanasnya kembali relasi politik kedua partai yang kini saling melempar narasi terbuka di ruang publik.
Situasi ini memperlihatkan bahwa isu loyalitas kader dan perpindahan politik tidak lagi hanya menjadi urusan internal partai, tetapi sudah berkembang menjadi pertarungan narasi antar-elite.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama