Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Emas Masih Punya Ruang Naik Meski Berpotensi Terkoreksi Jangka Pendek

        Harga Emas Masih Punya Ruang Naik Meski Berpotensi Terkoreksi Jangka Pendek Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih memiliki prospek penguatan dalam jangka menengah hingga panjang, meski dalam waktu dekat berpotensi mengalami koreksi. 

        Proyeksi tersebut didasarkan pada analisis teknikal serta sejumlah faktor fundamental global, mulai dari dinamika geopolitik hingga tingginya permintaan dari bank sentral di berbagai negara.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pada awal pekan depan harga emas dunia berpotensi menguji level support sebelum kembali mencari momentum penguatan.

        "Untuk harga emas dunia sendiri kita lihat support-nya itu di penutupan kemarin ya penutupan kemarin itu di US$4.155. Apabila harga emas dunia terkoreksi di hari Senin kemungkinan besar support pertama itu di US$4.088," ungkap Ibrahim kepada wartawan Minggu (21/6/2026).

        Sejalan dengan itu, harga emas logam mulia ditutup Rp2,66 juta per gram. Pada Senin depan logam mulia diperkirakan terkoreksi Rp2,64 juta dan seandainya terkoreksi kembali harga emas bisa berpotensi berada di Rp2,55 juta per gram.

        Di sisi lain, apabila tekanan mereda dan harga kembali menguat, emas dinilai memiliki peluang untuk bergerak ke level yang lebih tinggi.

        "Apabila harga emas dunia menguat kemungkinan besar resisen pertama itu di US$4243 logam mulianya itu di Rp2.68 juta. Apabila menguat kembali resiten kedua itu di US$4.465 dolar per troy ounce logam mulianya di Rp2.79 juta," ungkap dia.

        Menurutnya, fluktuasi harga emas saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain perkembangan geopolitik, kebijakan politik Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral AS, serta dinamika pasokan dan permintaan di pasar global.

        Ia menambahkan bahwa salah satu faktor yang menopang prospek emas dalam jangka panjang adalah meningkatnya akumulasi cadangan emas oleh bank sentral di berbagai negara. 

        Baca Juga: Makin Turun, Harga Emas Antam Kini Dijual Rp2.668.000 per Gram

        Baca Juga: DBS Treasures Melejit 289%, Investor Tajir Borong Emas Saat IHSG Terpuruk

        Pada kuartal pertama 2026, pembelian emas oleh bank sentral global disebut telah mencapai 244 ton sebagai bagian dari strategi dedolarisasi dan lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi serta geopolitik.

        Selain itu, survei yang dikutipnya menunjukkan semakin banyak bank sentral yang berencana menambah kepemilikan emas batangan sebagai cadangan devisa. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pendorong kenaikan harga emas ketika sentimen negatif di pasar mulai mereda.

        Di tengah potensi koreksi jangka pendek, analis tetap optimistis terhadap prospek logam mulia. "Emas saya masih optimis bahwa kedepan masih akan terus mengalahi penguatan tinggal menunggu momentum yang tepat," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: