Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasar Keuangan Bergejolak usai Keputusan The Fed, Simak Peluang di Reksadana dan Emas

Pasar Keuangan Bergejolak usai Keputusan The Fed, Simak Peluang di Reksadana dan Emas Kredit Foto: Pixabay
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% memicu volatilitas di pasar keuangan. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), penurunan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga emas, investor dinilai perlu memperkuat strategi diversifikasi dengan mencermati peluang di reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap (RDPT), hingga emas.

Investment Strategist Bareksa Sigma Kinasih mengatakan sikap The Fed dan Bank Indonesia yang sama-sama mempertahankan suku bunga menunjukkan bank sentral masih berhati-hati terhadap perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik juga membuat risiko inflasi masih menjadi perhatian pelaku pasar.

“Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya lebih selektif memilih instrumen sesuai tujuan investasinya,” kata Sigma dalam keterangannya, Kamis (30/7).

Pada perdagangan Rabu (29/7), IHSG ditutup turun 0,64% ke level 6.091,39, memperpanjang pelemahan menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Rupiah juga ditutup melemah ke Rp18.050 per dolar AS.

Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,299%, sedangkan harga emas spot justru menguat 1,39% menjadi US$4.084,74 per ons troi setelah keputusan The Fed.

RDPT Diuntungkan Penurunan Yield Obligasi

Sigma menjelaskan, penurunan yield SBN 10 tahun berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi investor yang ingin mencermati reksa dana pendapatan tetap karena harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield.

Selain itu, investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas juga dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang sebagai instrumen defensif di tengah fluktuasi pasar.

Berdasarkan data Bareksa per 29 Juli 2026, beberapa reksa dana pasar uang yang mencatatkan kinerja positif dalam satu tahun terakhir antara lain Insight Money Syariah dengan imbal hasil 5,25%, Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia 4,52%, Mandiri Money Market USD 2,64%, dan BRI Seruni Likuid Dolar 3,38%.

Adapun untuk kategori reksa dana pendapatan tetap, Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A membukukan imbal hasil 1,59%, sedangkan Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A mencatatkan 1,67% dalam periode yang sama.

Emas Berpotensi Lanjut Menguat

Di sisi lain, emas masih menjadi salah satu instrumen diversifikasi yang menarik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai harga emas (XAU/USD) masih berpeluang melanjutkan penguatan setelah berhasil keluar dari fase konsolidasi dan membentuk pola teknikal Falling Wedge.

“Keberhasilan harga keluar dari pola Falling Wedge membuka peluang bagi harga emas (XAU/USD) untuk melanjutkan kenaikan menuju area resistance pertama di kisaran 4.100. Jika momentum beli tetap terjaga dan harga mampu menembus level tersebut, maka target kenaikan berikutnya berada di sekitar 4.146,” ujar Geraldo.

Menurut dia, level 4.074 menjadi area support utama yang perlu dipertahankan agar tren bullish tetap terjaga. Apabila harga turun menembus level tersebut, peluang koreksi jangka pendek akan semakin besar.

Selain faktor teknikal, Geraldo mengatakan arah harga emas juga masih dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat, terutama ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed, pergerakan US Dollar IndexUS Treasury Yield, serta dinamika geopolitik global.

Menurut Sigma, volatilitas pasar setelah keputusan The Fed kembali menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio.

“Investor yang mengutamakan likuiditas dapat mencermati reksa dana pasar uang, sementara penurunan yield SBN membuka peluang pada reksa dana pendapatan tetap. Di sisi lain, penguatan harga emas kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu instrumen diversifikasi ketika ketidakpastian pasar meningkat,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: