Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diditup melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 16 poin ke level Rp17.859 dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.843 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini terjadi akibat para pelaku pasar menunggu hasil evaluasi MSCI, di mana pasar sempat mengalami tekanan setelah merilis Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
"Sejumlah catatan terkait transparansi struktur kepemilikan saham publik atau free float serta indikasi aktivitas perdagangan yang dinilai terkoordinasi dan informasi perusahaan emiten sering tidak tersedia secara lengkap dalam bahasa Inggris," kata dia kepada wartawan.
Ibrahim mengatakan, pasar juga terus memantau tentang rentetan persoalan yang menimpa sejumlah perusahaan manufaktur mulai dari penghentian produksi, perumahan karyawan, keterlambatan pembayaran gaji hingga relokasi investasi ke negara lain dinilai menjadi sinyal melemahnya daya saing industri manufaktur nasional.
Di sisi lain, terdapat empat perusahaan yang terancam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya imbas panasnya situasi global, yakni perang antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel.
Baca Juga: Gelombang PHK Mengintai, Kemenaker: Kita Punya Semacam dasbor
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.865 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Salah satunya, perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto yang terancam melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya. Kondisi yang tidak menentu membuat principle di Jepang memindahkan sebagian produksinya serta melakukan diversifikasi ke komponen kendaraan listrik.
Apabila relokasi benar terjadi, dampak langsung terhadap pabrikan kendaraan di dalam negeri akan bergantung pada tujuan produksi pabrik tersebut. Jika memasok kebutuhan domestik, produsen kendaraan harus mencari pemasok pengganti.
"Namun, apabila mayoritas produksinya diekspor, dampaknya lebih besar terhadap penerimaan negara," kata dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: