Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Masyarakat Harusnya Bersyukur! Harga Asli Pertamax Ternyata Tembus Rp20 Ribu

        Masyarakat Harusnya Bersyukur! Harga Asli Pertamax Ternyata Tembus Rp20 Ribu Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax ternyata berpotensi jauh lebih mahal jika dijual mengikuti harga keekonomian. Fakta tersebut diungkap Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya yang menyebut harga Pertamax bahkan bisa menyentuh kisaran Rp20.000 per liter.

        Meski demikian, menurut Bambang, pemerintah memilih turun tangan dengan melakukan intervensi harga. Langkah itu membuat Pertamax saat ini tetap dipasarkan sebesar Rp16.250 per liter, sehingga beban masyarakat dinilai tidak sepenuhnya mengikuti gejolak harga pasar.

        Bambang mengungkapkan, berdasarkan informasi yang ia peroleh dari pihak Pertamina, biaya pokok atau modal Pertamax pada 10 Juni lalu sebenarnya sudah berada di angka sekitar 1,1 dolar AS per liter.

        "Saya tanya kepada kawan-kawan Pertamina, itu RON 92 (Pertamax) ketika tanggal 10 Juni, sebetulnya modal kalian berapa? Itu 1,1 dollar AS per liter. Kalau kita rupiahkan, artinya sekitar Rp19.000 sampai Rp20.000," kata Bambang.

        Baca Juga: 'Nyesel Nggak Anda Nggak Milih Saya?', Anies Baswedan Sindir Pemuja Prabowo?

        Namun, harga tersebut tidak diberlakukan kepada masyarakat karena pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga jual yang lebih rendah.

        "Tetapi pemerintah lewat Menteri ESDM mematok bahwa mereka hanya boleh jual Rp16.250. Artinya apa? Masyarakat harus tahu bahwa sebetulnya untuk barang-barang nonsubsidi ini pun pemerintah intervensi. Barang ini tidak dibiarkan begitu saja," ujar dia.

        Bambang menilai kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada BBM bersubsidi. Konsumen BBM nonsubsidi pun, menurutnya, tetap mendapat perlindungan melalui pengendalian harga.

        Ia kemudian menyoroti kondisi di lapangan yang dinilai tidak mudah bagi pelaku usaha. Dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah, tidak semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama swasta, diyakini bersedia langsung menjual BBM pada harga tersebut.

        "Saya terbuka saja, misalkan kawan-kawan SPBU swasta lainnya. Apakah mereka mau jual dengan harga seperti sekarang? Kan belum mau. Jadi lebih baik ya begini aja dulu. Ada yang mungkin belum jualan dulu," terang Bambang.

        Baca Juga: Prabowo Dituding Takuti Rakyat soal Demo Bayaran, PDIP: Kalau Tahu, Tindak Saja!

        Maka dari itu, Bambang tetap memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor energi, terutama terkait pasokan BBM. Baginya, yang paling penting saat ini adalah masyarakat tetap memperoleh jaminan ketersediaan bahan bakar.

        "Terkait dengan BBM bahwa kita harus kasih apresiasi terkait dengan segala macam cerita yang ada, tetapi secara umum ketersediaan pasokan itu dapat dijamin untuk BBM," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: