Kredit Foto: Istimewa
Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dr Tifa menceritakan kondisi kesehatannya sempat menurun setelah menjalani penahanan oleh pihak kepolisian pada pekan lalu.
Ia mengatakan dilarikan ke rumah sakit, dan memang ia mengaku saat itu tengah sakit akibat gerd kronis dan tekanan darah tinggi yang kambuh.
Menurut Dr Tifa, hasil pemeriksaan medis menunjukkan sejumlah masalah kesehatan sehingga tim dokter memutuskan dirinya menjalani rawat inap.
"Saya akhirnya dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit saya memang butuh, sudah ada tanda gejala klinis, tekanan darah dan gerd kambuh. Saya diperiksa, ternyata casing-nya aja yang bagus, daleman saya ternyata tidak bagus," ungkap Dr Tifa kepada wartawan.
Dr Tifa mengaku kondisi kesehatannya menurun karena selama enam bulan terakhir lebih fokus menyelesaikan studi doktoralnya hingga kurang memperhatikan kondisi fisik. Ia mengatakan beberapa organ tubuhnya mengalami gangguan sehingga membutuhkan penanganan dari lima dokter spesialis.
"Ternyata beberapa organ saya bermasalah, sampai 5 dokter spesialis memutuskan saya diminta rawat inap. Saya ada problem di paru-paru, jantung, tekanan darah, dan saya ada juga infeksi, perlu opname," ujarnya.
Sementara itu, Dr Tifa juga menanggapi isu mengenai adanya campur tangan pihak tertentu dalam proses penangguhan penahanannya yang berlangsung selama empat hari. Menurutnya, penangguhan tersebut bukan intervensi 'orang kuat'.
"Isu orang kuat, 4 hari itu, itu intervensi Sang Mahakuat. Polda itu protes, polisi jengkel," tuturnya.
Sebelum menjalani perawatan di rumah sakit, Dr Tifa sempat berada di ruang tahanan. Ia mengaku meminta kepada petugas agar tidak ditempatkan dalam satu sel dengan tahanan kasus pembunuhan.
"Saya kasih syarat, saya enggak mau satu sel dengan rombongan pembunuhan, teman satu sel saya ini dipilihkan dengan rombongan judi," katanya.
Dr Tifa mengatakan selama berada di dalam sel, ia ditempatkan bersama lima tahanan kasus perjudian. Ia juga mengaku kesulitan beraktivitas karena ruang geraknya dibatasi, termasuk saat meminta kertas dan pulpen untuk menulis.
"Saya ngobrol: halo-halo, mereka tahu saya, orang-orang yang main judi, 'Ini Dr Tifa ya?'. Mereka itu petugas judi, 5 orang. Saya ini orang yang 5 menit enggak ngapa-ngapain saya pusing, saya ini orang yang aktif. Kita benar-benar dikurung. Saya minta kertas dan pulpen, sama petugas juga enggak boleh," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat