Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PDIP vs PSI Memanas di Jawa Tengah, Pacul Tantang Bukti Nyata Ambisi Kandang Gajah

        PDIP vs PSI Memanas di Jawa Tengah, Pacul Tantang Bukti Nyata Ambisi Kandang Gajah Kredit Foto: Rakyat Merdeka
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua DPP PDIP Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul menanggapi santai ambisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai "kandang gajah".

        Menurut Pacul, setiap partai politik memiliki hak untuk menyampaikan target, tetapi pembuktian sebenarnya tetap ditentukan oleh kerja politik di lapangan.

        "Gini lho, orang punya keinginan kok. Orang punya keinginan diucapkan. Apakah keinginan tersebut kemudian di-breakdown menjadi langkah-langkah yang nyata untuk mewujudkan keinginannya, nah itu kan nanti di lapangan," kata Pacul kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

        Pernyataan tersebut disampaikan Pacul setelah PSI mulai menggaungkan ambisi merebut basis politik Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai wilayah kuat PDIP.

        Jawa Tengah selama bertahun-tahun mendapat julukan "kandang banteng" karena menjadi salah satu basis suara terbesar partai berlambang kepala banteng tersebut.

        PSI di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep kini membawa narasi berbeda dengan menyebut Jawa Tengah berpotensi menjadi "kandang gajah". Julukan itu merujuk pada simbol PSI yang menggunakan lambang gajah dalam identitas politiknya.

        Meski demikian, Pacul menilai wacana politik harus diuji melalui langkah nyata, bukan hanya pernyataan. Menurut dia, kekuatan sebuah partai baru terlihat dari kemampuan mengubah ambisi menjadi dukungan politik masyarakat.

        Selain menanggapi PSI, Pacul juga menyinggung kondisi sejumlah partai politik yang saat ini masih menahan langkah menjelang Pemilu mendatang. Dia menyebut ketidakjelasan aturan terkait Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pileg membuat banyak partai memilih berhati-hati.

        "Setiap ini, gini lho, hari ini itu kira-kira sebagian besar partai hold. Karena Undang-Undang Pemilu belum ditetapkan, Undang-Undang Pileg belum ditetapkan. Rata-rata kan melakukan hold langkah, 'waduh aku melangkah gini jebule nggak begini', kan bisa begitu toh," ujar Pacul.

        Pacul mengatakan situasi tersebut juga membuat banyak calon anggota legislatif dan anggota DPR memilih menahan sejumlah persiapan politik. Menurutnya, mereka masih menunggu kepastian aturan sebelum menentukan strategi menghadapi kontestasi berikutnya.

        "Caleg-caleg ini lho, anggota-anggota Dewan ini pasti ngerem dulu. Mereka lagi, sebagian, saya tidak mengatakan semuanya, saya seolah sok tahu, sebagian itu meng-hold uang-uangnya untuk nanti pertempuran ke depan," kata Pacul.

        Di sisi lain, PSI terus memperkuat pesan politiknya di Jawa Tengah dengan melibatkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi dalam agenda safari politik.

        Ketua DPW PSI Jawa Tengah Antonius Yogo sebelumnya menyebut pihaknya ingin memastikan Jawa Tengah benar-benar menjadi "kandang gajah".

        "Kami segera menunggu jadwal dari Bapak untuk tanggalnya. Yang jelas, tugas kami hari ini mempersiapkan untuk Bapak turun, untuk Bapak keliling Jawa Tengah, memastikan bahwa Jawa Tengah benar-benar sebagai 'kandang gajah'," ujar Antonius.

        Baca Juga: Bambang Pacul Buka Suara usai PSI Klaim Jateng Bakal Jadi 'Kandang Gajah'

        Pernyataan PSI tersebut menambah dinamika persaingan politik di Jawa Tengah yang selama ini identik dengan dominasi PDIP. Namun, Bambang Pacul memilih tidak merespons dengan perdebatan panjang dan menyerahkan pembuktian kepada proses politik di masyarakat.

        Bagi PDIP, Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah strategis yang menjadi fondasi kekuatan partai dalam berbagai pemilu sebelumnya. Sementara bagi PSI, upaya membangun pengaruh di wilayah tersebut menjadi tantangan besar untuk menguji sejauh mana daya tarik politik mereka di luar basis tradisionalnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: