Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Usaha Amerika Sia-sia, Iran Ogah Tunduk Meski Dihujani Serangan dan Sanksi: Era Itu Sudah Berakhir

        Usaha Amerika Sia-sia, Iran Ogah Tunduk Meski Dihujani Serangan dan Sanksi: Era Itu Sudah Berakhir Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menunjukkan sikap tegas di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS). Teheran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan, serangan hingga intimidasi yang dilakukan Washington.

        Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa berbagai pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) telah dilakukan oleh Washington. Padahal hal tersebut sebelumnya menjadi dasar hubungan dari Amerika dan Iran.

        Baca Juga: Amerika Tak Gubris Protes Israel, Trump Siap Cabut Sanksi dan Buka Jalan Penjualan F-35 ke Turki

        Ghalibaf menuding negara tersebut melanggar komitmennya melalui serangan militer, kembali menjatuhkan sanksi terhadap sektor minyak, mengancam akan melakukan serangan lanjutan hingga mencampuri kebijakan dari Iran di Selat Hormuz.

        Ia juga menyoroti masih berlanjutnya serangan dari Israel ke Hizbullah di Lebanon.  Ghalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerah menghadapi tekanan tersebut.

        "Era perundungan dan pemerasan telah berakhir. Cara itu tidak akan membawa hasil," ungkap Mohammad Bagher Ghalibaf, Rabu (8/7).

        Ia juga menegaskan sikap pemerintahannya yang tidak akan menyerah meski mendapat tekanan militer maupun politik dari Amerika Serikat.

        "Kami tidak akan tunduk," lanjutnya.

        Pernyataan Teheran muncul setelah adanya pengumuman dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Ia mengumumkan telah menyelesaikan operasi militer terhadap lebih dari 80 target di Iran. Washington menyebut serangan tersebut sebagai respons langsung atas aksi musuh terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

        Menurut CENTCOM, sasaran operasi mencakup sistem pertahanan udara, pusat komando dan kendali, instalasi radar di wilayah pesisir, rudal antikapal hingga lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

        Militer Amerika menyatakan tujuan utama operasi tersebut adalah melemahkan kemampuan musuh untuk kembali menyerang jalur perdagangan internasional yang melewati Selat Hormuz. Ia merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi distribusi energi dunia.

        Selain itu, CENTCOM menegaskan bahwa pasukannya tetap berada dalam kondisi siaga dan siap mengambil tindakan lebih lanjut apabila musuh kembali melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan yang berlaku.

        "Pasukan CENTCOM tetap berada dalam posisi siap dan akan meminta pertanggungjawaban Iran apabila kesepakatan tidak dipatuhi atau dilaksanakan," demikian pernyataan militer Amerika Serikat.

        Pernyataan Ghalibaf menunjukkan bahwa mereka tidak berniat mengubah sikapnya meski mendapat tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat. Teheran justru menilai pendekatan yang dilakukan terhadapnya hanya akan memperburuk situasi dan tidak akan memaksanya mengubah kebijakan strategisnya.

        Baca Juga: Bukan Nasib Buruk, Ada Faktor Eksternal di Balik Kemenangan Argentina atas Mesir di Piala Dunia 2026

        Ketegangan terbaru ini memperlihatkan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Di tengah saling tuding pelanggaran dan ancaman balasan, komunitas internasional kini mencermati perkembangan situasi karena eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas kawasan sekaligus keamanan jalur perdagangan global di Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: