Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Balik Melemah ke Level Rp18.000 per USD, Tertekan Defisit APBN

        Rupiah Balik Melemah ke Level Rp18.000 per USD, Tertekan Defisit APBN Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level Rp18.000 pada penutupan perdagangan Rabu (8/72036). Mata uang Garuda terparkir Rp18.014 atau melemah 34 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah dipicu oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit. Hingga Semester I-2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

        Adapun realisasi pendapatan negara Rp.1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp.1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

        "Secara tahunan, defisit APBN Semester I-2026 justru lebih rendah 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Namun, lanjut Ibrahim, sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama jika dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun. 

        Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah.

        Di sisi lain, Bank Indonesia justru mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tetapi tetap berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.

        Baca Juga: Bank Indonesia Umumkan Cadangan Devisa Naik, Tembus 145,6 Miliar Dollar AS

        Baca Juga: Purbaya Umumkan Defisit APBN 2026 Melebar Jadi 2,85% PDB

         Kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh bank sentral untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global

        BI bahkan menyebut posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

        "Cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ibrahim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: