Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Investasi Sejak Muda Percepat Kebebasan Finansial dan Lawan Inflasi

        Investasi Sejak Muda Percepat Kebebasan Finansial dan Lawan Inflasi Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Memulai investasi sejak usia muda dinilai dapat mempercepat pencapaian kebebasan finansial sekaligus menjaga daya beli dari tekanan inflasi. Namun, generasi muda perlu membedakan investasi pada instrumen legal dan berisiko terukur dengan aktivitas spekulatif seperti judi online yang tidak menciptakan kepemilikan aset produktif.

        Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (6/7/2026).

        Praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal mengatakan waktu menjadi faktor utama dalam investasi karena memberi ruang bagi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.

        “Semakin dini seorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan,” kata Vier.

        Ia menyebut investasi sejak muda dapat mempercepat kebebasan finansial, membangun kebiasaan disiplin, serta memberi waktu bagi investor untuk belajar menghadapi risiko pasar. Menurutnya, dana yang hanya disimpan tanpa berkembang akan kehilangan daya beli akibat inflasi.

        “Investasi bukan menjadi kaya dalam semalam, tapi untuk merdeka secara finansial di masa depan. Prinsipnya, mulai dari kecil, konsisten, dan berpikir jangka panjang,” ujarnya.

        Vier menilai sebagian investor domestik masih berorientasi pada keuntungan cepat. Kondisi tersebut terlihat dari kecenderungan membeli saham saat harga naik dan menjual saat harga turun ketika pasar bergejolak.

        “Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik,” kata dia.

        Ia membandingkan pola tersebut dengan investor di Amerika Serikat dan Eropa yang lebih mengutamakan strategi jangka panjang, seperti penggandaan hasil investasi, reinvestasi dividen, investasi berkala, dan diversifikasi aset.

        Di sisi lain, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas sekaligus asesor profesi pasar modal B. Hari Mantoro menilai investasi diperlukan untuk mempertahankan daya beli di tengah kenaikan harga barang dan jasa.

        Ia mencontohkan harga Toyota Kijang Super Chassis yang pada 1991 berada di kisaran Rp24,5 juta. Pada 2026, harga Toyota Innova Zenix sebagai penerusnya mencapai sekitar Rp438 juta atau naik 17,8 kali lipat dalam 34 tahun.

        “Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing),” jelas Hari.

        Hari menilai saham perusahaan berfundamental kuat berpotensi memberikan imbal hasil di atas inflasi dalam jangka panjang. Ia mencontohkan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

        Harga saham BBCA saat penawaran umum perdana pada 2000 tercatat Rp1.400 per saham. Dengan memperhitungkan aksi pemecahan saham pada 2001 dan 2021, kenaikan harga saham BBCA disebut mencapai 3.989% hingga saat ini. Sementara itu, saham BREN mencatat kenaikan 296% sejak penawaran umum perdana pada 2023.

        Kinerja tersebut melampaui rata-rata inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir yang disebut berada di kisaran 2,8% per tahun. Inflasi tahunan sempat mencapai 4,21% pada 2022.

        Presiden Direktur Pintu Andy Putra juga mendorong mahasiswa untuk mengakses instrumen investasi legal, termasuk saham dan aset kripto, dengan memahami risiko masing-masing.

        Ia menyebut harga Bitcoin pada 2010 berada di kisaran Rp73 per keping, sedangkan saat ini telah mencapai sekitar Rp1,1 miliar per keping.

        “Artinya, orang yang masih memegang BTC sejak 2010 pasti dapat jackpot,” ujar dia.

        Andy menyebut aset kripto kini berada dalam pengawasan regulator dan menjadi salah satu instrumen yang banyak diminati kelompok usia muda. Ia mengatakan sekitar 60% investor kripto berusia 18-34 tahun.

        Menurutnya, akses investasi kripto yang dapat dilakukan sepanjang waktu serta nominal transaksi yang relatif kecil membuat instrumen tersebut menarik bagi investor pemula. Namun, karakter volatilitas aset kripto tetap menuntut investor memahami risiko dan tidak menempatkan dana secara berlebihan.

        Nilai transaksi aset kripto di Indonesia pada tahun lalu disebut mencapai Rp480 triliun. Andy juga menyoroti perkembangan tokenisasi aset, termasuk pada sektor properti, yang berpotensi memperluas model kepemilikan aset digital.

        Vier mengingatkan generasi muda agar tidak menyamakan investasi dengan judi online. Menurutnya, judi online tidak menghasilkan kepemilikan aset produktif dan secara matematis dirancang untuk memberi keuntungan kepada operator.

        “Judi online merupakan aksi spekulatif yang tidak menghasilkan kepemilikan aset produktif dan secara matematis dirancang memberi keuntungan kepada operator. Adapun investasi, seperti saham, adalah aktivitas kepemilikan bisnis yang memiliki risiko nyata dan transparan,” kata Vier.

        Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya penguatan literasi keuangan agar mahasiswa dapat memahami perbedaan antara risiko investasi, volatilitas pasar, dan praktik keuangan ilegal.

        Baca Juga: OJK Wajibkan Sertifikasi Influencer Kripto, Dinilai Bisa Tekan Risiko Misinformasi Investasi

        Baca Juga: Meski Jadi Magnet Investasi, Industri Fintech Kini Dibayangi Ancaman Fraud hingga AI

        Direktur Human Capital & Compliance PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Mucharom mengatakan literasi keuangan menjadi fondasi kesejahteraan finansial masyarakat. Ia merujuk Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan 2022 yang menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia masih berada di bawah 50%.

        “Data ini telah memberikan gambaran yang jelas tentang area di mana seluruh pihak perlu fokus untuk memperbaiki literasi keuangan,” kata Mucharom.

        Sementara itu, Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk. Patrick Dannacher menilai perlindungan sistem digital menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan investasi dan keuangan digital.

        “Pada akhirnya, keamanan siber tidak hanya melindungi sistem, tetapi juga menjaga kepercayaan investor dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” kata Patrick.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: