Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Meski Jadi Magnet Investasi, Industri Fintech Kini Dibayangi Ancaman Fraud hingga AI

Meski Jadi Magnet Investasi, Industri Fintech Kini Dibayangi Ancaman Fraud hingga AI Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Harun Reksodiputro, menilai industri financial technology (fintech) di Indonesia telah memasuki fase yang lebih matang.

Jika satu dekade lalu perusahaan rintisan masih berfokus mencari kecocokan produk dengan pasar (product-market fit), kini semakin banyak perusahaan fintech yang memiliki fundamental bisnis yang lebih kuat.

Harun mengatakan, sektor fintech hingga saat ini masih menjadi salah satu sektor startup yang paling banyak menarik investasi di Indonesia.

Menurutnya, indikator keberhasilan industri tidak lagi diukur dari banyaknya startup yang bermunculan, melainkan dari kemampuan perusahaan untuk bertahan, memperoleh kepercayaan masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi perekonomian.

"Fintech tetap menjadi sektor yang paling banyak menarik investasi startup di Indonesia," kata Harun dalam Indonesia Digital Bank Summit 2026, di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Ia menekankan keberhasilan fintech hari ini diukur bukan dari berapa banyak start up yang lahir, tetapi dari berapa banyak institusi yang mampu bertahan.

Kendati demikian, Harun mengingatkan bahwa industri fintech juga menghadapi tanggung jawab yang semakin besar. Seiring meningkatnya keterhubungan layanan keuangan digital dengan aktivitas masyarakat, ancaman seperti penipuan (fraud), scam, kejahatan siber, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) juga semakin meningkat.

Baca Juga: Sambut Era Universal Banking, AFTECH: Indonesia Berpeluang Jadi Kiblat Keuangan Digital Regional

Baca Juga: AFTECH Sebut Pindar Bukan Sekadar Pinjaman, Tapi Jembatan ke Sistem Keuangan Formal

"Walaupun semakin besar peluangnya, semakin besar pula tanggung jawabnyaI," katanya.

Karena itu, menurut Harun, persaingan industri ke depan tidak lagi hanya soal menghadirkan inovasi tercepat, tetapi bagaimana perusahaan mampu menjaga kepercayaan konsumen.

"Perlombaan berikutnya adalah siapa yang paling mampu mempertahankan kepercayaan konsumen trus," tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra